Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 23 Juni 2017 | 10:44 WIB
  • Mengapa Nyamuk Tertarik pada Manusia?

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis,
    • Afra Augesti
Mengapa Nyamuk Tertarik pada Manusia?
Photo :
  • Pixabay/Nuzree
Ilustrasi nyamuk.

VIVA.co.id – Bulan ini, sekelompok peneliti Inggris akan melakukan sebuah investigasi baru mengenai peran genetika manusia yang memikat nyamuk. Caranya ialah dengan mengumpulkan kaus kaki berbau menyengat dari 200 kembar identik dari Inggris dan Gambia.

Mereka berencana menempatkan kaus kaki tersebut di terowongan kincir angin yang banyak dihuni serangga. Para pemilik kaus kaki diharapkan dapat menghasilkan bahan kimia atraktif atau repelan secara alami. Bahan kimia ini nantinya akan mendasari pembuatan pengendali nyamuk di masa depan. 

Ahli entomologi medis London School of Hygiene and Tropical Medicine, Inggris, James Logan, mengatakan, timnya sedikit mengetahui mengapa genetika manusia menarik perhatian nyamuk.

"Kami berharap penelitian ini akan memberi wawasan tentang mekanisme untuk membantu mengubah bau tubuh manusia, agar menjadi kurang menarik bagi nyamuk. Jika kita dapat mengidentifikasi gen penting di tubuh sendiri, mungkin kita bisa mengembangkan pil atau obat yang membuat tubuh memproduksi zat pengusir nyamuk," ujar Logan yang memimpin studi tersebut dikutip dari Scientific American, Jumat, 23 Juni 2017.

Temuan ini juga diharapkan dapat membantu para ahli epidemiologi untuk mengetahui seberapa jauh sebuah populasi rentan terhadap nyamuk pembawa penyakit. Sebelumnya, ilmuwan telah mengetahui bahwa ada perbedaan antara manusia yang digigit nyamuk lebih banyak dan mereka yang mendapat gigitan sedikit.

Bagi kita yang menghembuskan lebih banyak karbon dioksida tampaknya menjadi suar alami bagi nyamuk, karena periset menemukan korelasi banyaknya gigitan nyamuk dengan ukuran tubuh. Menurut mereka, orang bertubuh tinggi atau bertubuh besar cenderung mendapat banyak gigitan.

Hal ini mungkin disebabkan oleh banyaknya pengeluaran karbon dioksida dari tubuh mereka, atau karena luasnya permukaan tubuh. Ada juga beberapa bukti yang menunjukkan bahwa wanita hamil atau perempuan yang berada pada fase menstruasi, lebih atraktif terhadap gigitan nyamuk.

Sedangkan studi lain mengungkap, nyamuk pembawa penyakit malaria lebih tertarik kepada orang yang terinfeksi malaria, selama tahap infeksi masih dapat ditularkan.