Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 4 Juli 2017 | 17:52 WIB
  • Stephen Hawking Disindir Salah Kaprah soal Pemanasan Global

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis
Stephen Hawking Disindir Salah Kaprah soal Pemanasan Global
Photo :
  • Facebook/Stephen Hawking/CERN/Laurent Egli 2012
Stephen Hawking

VIVA.co.id – Pernyataan Stephen Hawking soal kekhawatirannya atas dampak perubahan iklim mendapat kritikan tajam dari beberapa pakar. Komentar Hawking yang menuturkan Bumi akan mirip seperti Planet Venus jika tak ada komitmen penanggulangan pemanasan global, dinilai tak akurat. 

Selama wawancara dengan BBC dalam perayaan ulang tahunnya yang ke-75, profesor Universitas Cambridge, Inggris itu memperingatkan keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menarik diri dari kesepakatan Perjanjian Iklim Paris dapat menyebabkan pemanasan global yang pelan, dan akhirnya mengubah atmosfer bumi menjadi sesuatu yang menyerupai Venus.

"Kita mendekati titik kritis yang mana pemanasan global tak dapat diubah lagi. Tindakan Trump dapat mendorong Bumi melewati jurang. Jadi (Bumi) seperti Venus, yang mana suhunya 250 derajat dan penuh hujan asam sulfat," ujar Hawking. 

Namun dikutip Mashable, Selasa 4 Juli 2017, ilmuwan iklim Zeke Hausfather mengkritik pernyataan Hawking tersebut. Dia menilai Hawking tak akurat. 

"Sebuah contoh yang bagus, bahkan seorang ilmuwan brilian kadang-kadang mengatakan hal-hal konyol soal hal di luar bidang keahlian mereka," ujarnya merupakan analis sistem energi di Berkeley Earth. 

Sedangkan pakar iklim dari Met Office, Gareth Jones menilai, jawaban Hawking soal kekhawatiran Bumi berubah seperti Venus tidak akan terjadi.

Jones meyakini tidak ada kemungkinan dampak pemanasan global di Bumi tak akan menjadi seperti lingkungan Venus. Jones meyakini, situasi suhu Bumi menjadi 250 derajat bakal terjadi dalam miliaran tahun dengan catatan Matahari menjadi 10 persen lebih terang.

Ide rumah kaca akan melanda Bumi terjadi satu miliar tahun lagi juga masih menjadi perdebatan. Ada pakar yang meyakini, kondisi panas ekstra di Bumi tidak perlu menunggu sampai satu miliar tahun, jika manusia terus menerus membakar bahan bakar fosil. 

Sumber tak akurat

Para pakar menduga, kesalahan Hawking soal prediksi kondisi Bumi menjadi seperti Venus, kemungkinan karena fisikawan terkenal itu melandaskan pada argumen kontroversial dari pakar iklim dalam buku Storm of my Grandchildren karya James Hansen, yang dipublikasikan pada 2009. 

Dalam buku tersebut, Hansen berpendapat, manusia terus membakar semua cadangan minyak, gas dan batu bara, maka ada kemungkinan besar manusia akan meluncur masuk ke kondisi rumah kaca.

"Jika kita membakar minyak dan bagian minyak, saya yakin sindrom Venus adalah sebuah kepastian," kata Hansen.

Para ilmuwan mengira, Venus mengalami dampak pemanasan karena perkembangan lingkungannya. Sama seperti Bumi, Venus pada awalnya, diperkirakan pernah memiliki samudera. Namun karena posisi Venus lebih dekat ke Matahari, suasananya menjadi sangat panas sehingga hidrogen bisa lepas dari atmosfer terluar Venus.

Sementara pada masa kini, Venus memiliki atmosfer yang tipis yakni yaitu 96,5 persen berupa CO2. Kondisi ini membuat permukaannya suhunya hampir mencapai 482 derajat celsius dan tekanan permukaan 90 bar,  berlawanan dengan 1 bar di Bumi.

Argumen Hansen adalah bahwa hal yang sama bisa terjadi di Bumi yang didasarkan bukan pada kedekatan dengan Matahari yang cerah tapi dari manusia yang membakar bahan bakar fosil. 

(Laporan: Suarmanto Effendi)