Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 5 Juli 2017 | 11:17 WIB
  • Bahaya Ketika Robot Seks Mulai Jadi Tren

  • Oleh
    • Siti Sarifah Alia
Bahaya Ketika Robot Seks Mulai Jadi Tren
Photo :
  • www.engadget.com
Ilustrasi robot seks

VIVA.co.id – Robot seks memang merupakan teknologi yang menjanjikan dan dianggap revolusioner. Namun di balik itu semua, robot seks juga memiliki risiko yang patut diwaspadai.

Hal ini diungkap oleh Dr. Aimee van Wynsberghe, penulis laporan bertajuk Foundation for Responsible Robotic. Menurut Wynsberghe, robot seks bisa dijadikan teman bagi orang tua dan pria yang memiliki masalah dalam hubungan percintaan. Namun di sisi lain, robot seks juga bisa memberikan dampak negatif bagi citra seorang wanita.

"Robot bisa menjadi revolusi bagi dunia seks, membantu orang yang memiliki masalah dalam menjalin sebuah hubungan. Secara tidak langsung, mereka bisa meningkatkan objektivitas yang buruk terhadap kaum wanita dan kerap digunakan untuk memuaskan hasrat yang seharusnya tidak sah," ujar Wynsberghe, seperti dikutip dari The Guardian, Rabu, 5 Juli 2017.

Padahal, menurutnya, nilai kebaikan dari sebuah robot seks lebih banyak ketimbang hanya dipakai untuk memuaskan nafsu belaka. Misalnya, kata dia, bisa menjadi teman bagi orang tua yang kesepian ditinggal anak-anaknya, menjadi asisten bagi orang cacat, atau menemani mereka yang terkena trauma.

Saat ini diketahui setidaknya ada empat pabrikan yang membuat robot seks. Robot-robot tersebut dibanderol dengan harga US$5.000 sampai US$15.000. Memang tergolong mahal, makanya mereka berniat untuk membuat robot seks yang harganya lebih terjangkau.

Salah satu manufaktur, RoxxxyGold, dikabarkan membuat sebuah robot bernama Frigid Farah, yang digambarkan sebagai robot yang pemalu. Dalam panduan manual, produsen pembuatnya menuliskan 'jika disentuh di bagian privat, Farah akan marah dan berontak'. Hal ini dianggap akan memicu pemiliknya berfantasi melakukan pemerkosaan.

"Dari sini ada pro dan kontra. Di sisi lain, orang akan berkata 'lebih baik memperkosa robot ketimbang wanita sebenarnya'. Namun orang yang berseberangan akan menilai robot ini dapat meningkatkan keinginan orang untuk melakukan pemerkosaan. Ini sama halnya dengan pemikiran terhadap produsen yang membuat robot seks anak-anak, dianggap hanya akan meningkatkan perilaku paedofilia," ujar profesor robotik dan artificial intelligence dari Sheffield University, Noel Sharkey.

Terlebih, yang ditakutkan Wynsberghe, robot seks hanya akan memperkuat objektivitas wanita ke arah yang negatif. Pasalnya, robot seks versi perempuan dibuat berdasarkan representasi dari industri pornografi. (ase)