Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 15 Juli 2017 | 06:02 WIB
  • Mata Manusia yang Dikenal Steril, Ternyata Rumah Bakteri?

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis,
    • Afra Augesti
Mata Manusia yang Dikenal Steril, Ternyata Rumah Bakteri?
Photo :
  • pixabay/Twnynina
Ilustrasi mata.

VIVA.co.id – Sejumlah penelitian banyak yang mengungkapkan tubuh manusia penuh dengan mikroba. Tapi, banyak di antaranya adalah bakteri baik. Sebuah studi baru menunjukkan, mata manusia mengandung sejumlah mikroba.

Dilansir dari laman Prima, Jumat 14 Juli 2017, banyak yang meyakini mata manusia adalah organ yang cukup steril dan bukan merupakan rumah bagi bakteri. Namun, para ilmuwan dari National Eye Institute (NEI) di Amerika Serikat mengusap kelopak mata tikus dan menemukan banyak bakteri di sana, termasuk jenis bakteri yang disebut Corynebacterium masitidis  atau C.mast.

C.mast sepertinya menguntungkan manusia. Hal ini terbukti karena C.mast menimbulkan respons kekebalan yang mencegah infeksi mata tertentu. Ilmuwan memang hanya bereksperimen pada tikus, peneliti menyatakan kondisi itu bisa diterapkan pada manusia.

"Tidak ada alasan mengapa penelitian ini unik bagi tikus. Fisiologi permukaan okular tikus serupa dengan manusia, oleh sebab itu sangat mungkin bahwa apa yang kita temukan di mata tikus juga berlaku untuk mata manusia," ujar penulis studi tersebut, Rachel Caspi kepada Time, Jumat 14 Juli 2017.

Hal ini membuat para dokter berpikir dua kali untuk meresepkan antibiotik, apabila menemukan infeksi pada mata. Karena antibiotik tersebut malah akan membunuh bakteri baik yang mungkin melindungi mata dari bakteri berbahaya di masa mendatang.

Temuan bakteri itu juga membuka peluang suatu hari nanti, manusia akan mengobati bakteri jahat dengan bakteri yang baik (probiotik), daripada menggunakan obat konvensional.

"Kita harus hati-hati dalam mengaplikasikan antibiotik di mata, karena dapat menghilangkan bakteri baik. Ke depannya, terapi probiotik bisa dikembangkan agar mata tidak bergantung pada antibiotik," ucap Caspi juga merupakan peneliti senior di laboratorium imunologi NEI.