Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 19 Juli 2017 | 22:38 WIB
  • BPPT Temukan 12 Kandidat Obat Hasil Info Dukun Kampung

  • Oleh
    • Mohammad Arief Hidayat,
    • Syaefullah
BPPT Temukan 12 Kandidat Obat Hasil Info Dukun Kampung
Photo :
  • VIVA.co.id/Syaefullah
Direktur Pusat Teknologi Farmasi dan Medika BPPT, Imam Paryanto, di Jakarta pada Rabu, 19 Juli 2017.

VIVA.co.id - Pengobatan herbal para dukun di kampung dari berbagai daerah masih dianggap tabu dalam dunia medis atau kedokteran.

Namun, bagi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dukun di kampung dianggap sangat berarti karena sebagai petunjuk awal dalam meneliti tanaman herbal nasional.

"Biasanya dukun melakukan pengobatan kepada masyarakat. Terkadang dia mengetahui bahwa ini mempunyai khasiat, tapi secara ilmiah kita harus membuktikan itu. Dukun itu menjadi bukti awal," kata Direktur Pusat Teknologi Farmasi dan Medika BPPT, Imam Paryanto, di Jakarta pada Rabu, 19 Juli 2017.

Imam menjelaskan, berdasarkan petunjuk para dukun kampung, BPPT menemukan ribuan tanaman herbal berkhasiat dari berbagai daerah di Tanah Air, di antaranya, Sulawesi, Papua, taman nasional di Kerinci, taman nasional di Bali, Pangandaran, Ujung Kulon, dan lain-lain.

Penemuan ribuan tanaman jenis herbal itu didapat dari kajian BPPT sejak tahun 2009 hingga tahun 2017. Tim peneliti telah mengumpulkan tiga ribu informasi dari dukun, namun baru 12 di antaranya yang menjadi kandidat obat.

Imam belum bisa memastikan kapan 12 kandidat obat herbal itu terealisasi atau diproduksi. Tidak dijelaskan terperinci jenis obatnya, tetapi secara umum untuk obat diabetes, obat asma, dan lain-lain.

BPPT berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan untuk mengembangkan tanaman herbal yang bisa dijadikan obat.

Obat impor

BPPT mencatat, sebagian besar bahan baku obat untuk kebutuhan medis secara nasional masih mengandalkan impor dari Tiongkok dan India.

Menurut Deputi BPPT Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi pada BPPT, Eniya Listiani Dewi, bahan baku obat paling besar yang diimpor adalah high function chemical, amoxicillin, dan bahan baku pendukung batuk inflamasi.

Selain masalah impor bahan baku, BPPT juga mencatat Indonesia masih banyak mengimpor alat kesehatan dari luar negeri yang nilainya mencapai triliunan rupiah. Impor alat kesehatan mencapai Rp8,79 triliun pada 2015. (ase)