Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 21 Juli 2017 | 10:38 WIB
  • Sampah Antariksa di Sumbar, Begini Mekanisme Ganti Ruginya

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis
Sampah Antariksa di Sumbar, Begini Mekanisme Ganti Ruginya
Photo :
Benda langit misterius yang terjatuh di sebuah ruas jalan aspal di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Selasa (18/7/2017)

VIVA.co.id – Sampah antariksa kembali jatuh di wilayah Indonesia. Sampah yang terbaru jatuh dari langit di jalan raya Jorong Kubu, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjungraya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada pukul 09.30 WIB, Selasa 18 Juli 2017. 

Belakangan diidentifikasi sampah antariksa yang berupa bola besi dan lempengan itu merupakan bagian dari tabung bahan bakar roket RRT Longmach/Chang-Zheng 3 milik China. 

Dalam hal insiden sampah antariksa jatuh di daratan, ada mekanisme internasional untuk penanganannya. Aturan main penanganan itu termasuk mengatur tentang ganti rugi atas dampak kerusakan jatuhnya sebuah sampah antariksa.  

Kepala Pusat Sains Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Clara Yono Yatini menjelaskan, dalam aturan mainnya, negara atau otoritas yang kejatuhan sampah antariksa bisa menuntut negara atau pemilik objek antariksa yang telah menjadi sampah tersebut. 

"Mekanismenya, kalau ada kerugian yang ditimbulkan, negara yang dirugikan bisa menuntut negara pemilik objek antariksa tersebut," ujar Clara kepada VIVA.co.id, Jumat 21 Juli 2017. 

Aturan lainnya, negara yang menjadi korban sampah antariksa dan negara pemilik bisa melibatkan negara lain untuk membicarakan dampak dan kompensasi jatuhnya sampah antariksa. 

"Lalu bisa ditentukan negara ketiga untuk bersama-sama kedua negara yang terlibat untuk membicarakan ganti ruginya," ujarnya. 

Clara menuturkan, sepanjang catatan Lapan, sampah antariksa yang jatuh di wilayah Indonesia belum pernah sampai pembahasan terkait ganti rugi atau kompensasi. Sebab nyaris semua sampah antariksa yang jatuh di Indonesia, tidak jatuh di pemukiman.  

Satu-satunya sampah antariksa yang jatuh di pemukiman yakni sampah bekas roket Falcon 9 milik perusahaan antariksa swasta AS, SpaceX yang jatuh di Sumenep, Madura, pada September 2016. 

Meski sampah Falcon 9 menghancurkan kandang hewan dan atap rumah warga, tapi kala itu pemerintah Indonesia tidak menuntut ganti rugi kepada Amerika Serikat maupun SpaceX. 

"Yang pernah menimpa Madura tahun 2016 yang lalu karena kerugiannya tidak besar, maka pemerintah lokal berinisiatif untuk menanggulangi sendiri," jelasnya. 

Kepala Lapan, Thomas Djamaluddin mengungkapkan, sejak sampah antariksa di Kabupaten Agam diidentifikasi milik China, sampai kini otoritas atau perwakilan Negeri Tirai Bambu tersebut belum mengontak Lapan atau pemerintah Indonesia. 

"Tidak ada, karena tak ada dampak yang merugikan," kata dia. 

Sebelumnya, Thomas menuturkan sampah antariksa yang jatuh pada Selasa lalu adalah bagian dari tabung bahan bakar roket RRT Longmach/Chang-Zheng 3.

"Itu bagian tabung bahan bakar roket RRT Longmach/Chang-Zheng 3. Roket ini digunakan untuk meluncurkan satelit navigasi Beidou M1 pada 13 April 2007 lalu. Awalnya, ukuran benda ini sangat besar. Tapi saat masuk ke atmosfer Bumi, benda ini pecah. Sebagian mungkin jatuh di laut atau hutan," ujarnya. 

Berdasarakan data gambar lintasan orbit yang terekam di laboratorium Lapan, Thomas mengatakan sampah antariksa roket China itu terlacak waktu jatuhnya.

"Ini lintasan objek menjelang jatuh. Dalam hitungan orbit, objek tersebut sudah memasuki atmosfer Sumatra Barat pada pukul 09:07 WIB," jelasnya.

Lintasan orbit sampah antariksa Longmach/Chang-Zheng 3

Thomas menuturkan, tabung bahan bakar roket RRT Longmach/Chang-Zheng 3 sempat mengalami kerusakan, sehingga keluar dari lintasan dan jatuh ke Bumi. Penyebab utamanya adalah orbit telah memasuki atmosfer padat Bumi dan berada di ketinggian 120 kilometer, sehingga tidak bisa melanjutkan orbit.