Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 26 Juli 2017 | 09:07 WIB
  • Bos Facebook dan Tesla Debat soal Kecerdasan Buatan

  • Oleh
    • Lazuardhi Utama
Bos Facebook dan Tesla Debat soal Kecerdasan Buatan
Photo :
  • REUTERS/Brian Snyder
Mark Zuckerberg lulus dari Universitas Harvard.

VIVA.co.id – Bos Facebook, Mark Zuckerberg dan Tesla, Elon Musk, terlibat ‘adu mulut’ di jejaring sosial Twitter. Mereka berdebat soal kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Menurut Zuckerberg, robot bisa menjadi cukup cerdas untuk membunuh penciptanya sendiri, manusia. Ia juga mencaci para pengecam yang memiliki skenario akhir segalanya atau kiamat seperti Musk sebagai orang yang tak bertanggung jawab. 

"Saya optimistis sekali. Saya tak bisa memahami orang-orang bersuara negatif yang berusaha mengangkat skenario kiamat," kata Zuckerberg, seperti dikutip Mashable, Rabu, 26 Juli 2017.

Ia menyatakan AI bisa menghasilkan diagnosis penyakit dan peniadaan kecelakaan mobil yang lebih baik. Zuckerberg juga tidak melihat alasan ada orang yang ingin memperlambat perkembangan AI melalui regulasi.

Zuckerberg mengklaim bahwa algoritma dan teknologi temuannya telah merevolusi media sosial dan mendapatkan dua miliar pengguna aktif setiap bulan. Menanggapi komentar Zuckerberg, Musk menjawab singkat.

"Pemahaman dia tentang subjek ini terbatas," kata Musk, lewat akun Twitter-nya. Ia menegaskan bahwa potensi bahaya seperti itu bukan khayalan sehingga pemerintah harus bergerak meregulasi AI.

"Saya akan terus memperingatkan bahwa sampai orang melihat robot turun ke jalan untuk membunuh manusia. Mereka tak akan tahu bagaimana bereaksi, karena hal itu tampaknya berjalan lembut," kata Musk.

Lebih lanjut Musk mengatakan, jika AI adalah risiko fundamental untuk eksistensi peradaban manusia. Keduanya terlibat debat seru selama beberapa hari terakhir menyangkut bahaya kecerdasan buatan.

Mereka berbeda tajam soal perlunya regulasi pemerintah yang lebih ketat menyangkut teknologi. Istilah kecerdasan buatan atau AI digunakan untuk menggambarkan mesin dengan kode komputer yang bisa belajar dengan sendirinya.

Teknologi ini menjadi luas digunakan pada berbagai sektor semacam pelayanan kesehatan, hiburan dan bank. Kekhawatiran bahwa mesin akan menjadi cerdas sekali sehingga bisa berbalik memberontak terhadap manusia sudah menjadi tema umum dalam fiksi ilmiah. (ase)