Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 26 Juli 2017 | 17:04 WIB
  • Indonesia Masih Skeptis dengan Negara Antariksa Asgardia

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis
Indonesia Masih Skeptis dengan Negara Antariksa Asgardia
Photo :
  • Twitter/@AsgardiaSpace
Asgardia, calon negara pertama di antariksa

VIVA.co.id – Gagasan mendirikan negara pertama di luar angkasa sedang menjadi perhatian publik. Negara yang bernama Asgardia,telah membuat lebih dari 5 ribu orang Indonesia mendaftarkan diri menjadi Asgardian, sebutan warga negara Asgardia. 

Menanggapi munculnya gagasan Asgardia, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin menilai sah-sah saja gagasan yang unik tersebut. Namun dia mencatat, gagasan itu menciptakan negara di luar Bumi itu itu tergolong masih awal, perlu pematangan. 

"Itu masih konsep yang realisasinya belum jelas," ujar Thomas kepada VIVA.co.id, Rabu 26 Juli 2017. 

Jebolan program doktor Astronomi Kyoto University Jepang itu menuturkan, dari aspek teknologi untuk mewujudkan atau mengirimkan koloni di antariksa masih butuh waktu dan pengembangan inovasi. 

"Masih jauh untuk mewujudkan koloni di antariksa," jelasnya.

Thomas mengikuti perkembangan wacana negara Asgardia. Dia mengatakan Asgardia memang berusaha membuktikan ambisinya, yakni dengan berupaya mendaftarkan menjadi negara yang diakui oleh PBB. Sementara syarat mendirikan negara di dunia, salah satunya harus punya warga negara. 

Dari sisi keantariksaan, munculnya wacana Asgardia, bagi Thomas juga menjadi perdebatan. 

"Secara legal hukum keantariksaan, negara Asgardia masih diperdebatkan," ujarnya. 

Sebelumnya diberitakan, Asgardia telah menarik perhatian orang Indonesia. Tercatat sudah ada 5.182 warga Indonesia yang lolos menjadi anggota atau warga Asgardia. 

Jumlah Asgradian asal Indonesia itu merupakan bagian dari total Asgardian seluruh dunia yang telah mencapai 273.490. Menurut situs Asgardia, Asgardian dari Indonesia didominasi oleh kaum adam dengan 84 persen, sedangkan sisanya, 16 persen, adalah kaum hawa. (ren)