Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 29 Juli 2017 | 11:39 WIB
  • Indonesia Populasi Keempat Terbesar Asgardia

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis
Indonesia Populasi Keempat Terbesar Asgardia
Photo :
  • www.asgardia.space
Populasi Asgardian Indonesia

VIVA.co.id – Jumlah warga Indonesia yang lolos menjadi  warga negara pertama di antariksa, Asgardia makin bertambah. Kini dalam jumlah warga negara Asgardia, disebut Asgardian, Indonesia menjadi populasi keempat terbesar Asgardia. Indonesia menempati peringkat keempat dengan jumlah populasi 13.548 Asgardian. 

Populasi Indonesia berada di bawah urutan pertama Turki (42.318 Asgardian), China (39.465 Asgardian), Amerika Serikat (34.201 Asgardian). 

Jumlah populasi Asgardian Indonesia meningkat. Pada Selasa 25 Juli 2017, populasi Indonesia mencapai 5.182 Asgardian menempati urutan ke-12, kini menjadi 13.548 Asgardian dan menempati urutan keempat. Saat total populasi Asgardian mencapai 285.368 dari 226 negara di dunia.  Akun Twitter Asgardia mengumumkan pencapaian populasi warga Indonesia pada postingannya. 

“Indonesia sekarang merupakan populasi  keempat terbesar Asgardian di bawah Turki, China dan Amerika Serikat,” tulis akun @AsgardiaSpace, Sabtu 29 Juli 2017.

Asgardia merupakan sebuah nama yang diambil dari mitologi Yunani. Konsep negara baru di antariksa ini memperkenankan siapa pun untuk mendaftar sebagai warga. 

Syaratnya cukup berusia di atas 18 tahun, tidak peduli jenis kelamin, kebangsaan, ras, agama dan kekayaan. Bahkan seorang mantan narapidana pun bisa mendaftar asal memiliki catatan data yang jelas.

Dalam rencananya, Asgardia akan meluncurkan satelit pertama yang akan membawa data awal warga Asgardia yang telah mendaftar. Baru kemudian ilmuwan Asgardia akan menciptakan sebuah platform hunian bagi manusia untuk ditempati.

Setidaknya hunian ini akan dibangun di ketinggian 160-320 kilometer di atas Bumi dan dirancang untuk siap dihuni bagi penduduknya selama 8 tahun.

Sementara itu, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin, menilai rencana menciptakan negara di luar Bumi itu tergolong masih awal dan perlu pematangan. 

Sebabnya, menurut jebolan program doktor Astronomi Kyoto University Jepang ini, dari aspek teknologi untuk mewujudkan atau mengirimkan koloni di antariksa masih butuh waktu dan pengembangan inovasi.