Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 2 Agustus 2017 | 20:27 WIB
  • Ilham Habibie: Soal Pesawat, RI Bukan Anak Kemarin Sore

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis,
    • Afra Augesti
Ilham Habibie: Soal Pesawat, RI Bukan Anak Kemarin Sore
Photo :
  • VIVA/Nila Chrisna
BJ Habibie menjelaskan pesawat R80 ke Presiden Jokowi

VIVA.co.id – Sudah empat tahun lamanya, pesawat R80 dikembangkan oleh anak bangsa di Tanah Air. Sejak 2013, pesawat yang merupakan pengembangan dari pesawat N250 buatan Bacharudin Jusuf Habibie ini mulai dibuat.

Komisaris PT. Regio Aviasi Industri, Ilham Akbar Habibie mengatakan, pengembangan R80 masih menemui berbagai macam kendala. Putra pertama Presiden RI ke-3 ini mengatakan, ada tiga hal mendasar yang masih harus diatasi oleh perusahaannya, yang menaungi R80. Pertama, dukungan pemerintah. Kedua, datang dari sisi pendanaan dan ketiga, ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM). Meski demikian, perusahaan tersebut yakin R80 bisa segera beroperasi dalam enam tahun lagi, yakni pada 2023.

"Total anggaran untuk pengembangan R80 adalah minimal US$1 miliar, ini untuk keseluruhan. Selain dana, dukungan dari pemerintah dan ketersediaan SDM juga jadi kendala. Biarpun begitu, kita bangga sekali semua SDM kita orang Indonesia. Memang kita tidak perlu cari dari luar, karena semua lengkap di Indonesia," katanya saat ditemui di The Habibie & Ainun Library, Jakarta, Rabu 2 Agustus 2017.

Menurut dia, tak gampang mengembangkan pesawat R80 karena proyek ini menyangkut proses jangka panjang. Selain membutuhkan waktu yang agak lama, dana yang diperlukan pun tidak berjumlah kecil. Ditambah lagi, perlu pengetahuan dan pengamalan yang tidak dangkal agak substansial. Tapi, kata Ilham, Indonesia bukanlah ‘anak kemarin sore’ yang baru bisa membuat pesawat.

"Bukan pemula. Sudah dari tahun 1976 kan? Jadi sudah 41 tahun Indonesia punya industri pesawat terbang. Pengalamannya sudah banyak," ucapnya.

Terkait kendala dari Peraturan Presiden untuk menguatkan R80 sebagai Proyek Strategis Nasional, Ilham menjabarkan, relevansi proyek R80 sudah mencakup konteks pembangunan nasional, sehingga bisa disebut sebagai strategi nasional. 

"Dalam konteks pembangunan, negara kita ke depannya melihat pesawat terbang akan mempunyai peranan yang khusus. Jadi, alangkah baiknya kalau kita menguasai tekniknya, produknya, sampai ke industrinya. Karena kita memang selalu akan memerlukan pesawat. Beda dengan negara lain. Saya rasa sudah cukup." (mus)