Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 3 Agustus 2017 | 16:09 WIB
  • Kapan Gunung Sinabung Berhenti Meletus?

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis
Kapan Gunung Sinabung Berhenti Meletus?
Photo :
  • VIVA.co.id/ANTARA FOTO/Maz Yons
Gunung Sinabung di Sumatera Utara mengalami erupsi pada Rabu (2/8/2017)

VIVA.co.id – Gunung Sinabung di Kabupaten Karo Sumatera Utara kembali erupsi. Laporan Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nugroho, Rabu 2 Agustus 2017, Gunung Sinabung kembali memuntahkan abu vulkanik hingga setinggi 4.200 meter.

Erupsi tersebut makin menambah panjang riwayat letusan Gunung Sinabung. Sejak 15 September 2013, Gunung Sinabung mengalami erupsi hingga kini. Karena itu, hingga kini dari 127 gunung api aktif di Indonesia, Sinabung menjadi satu-satunya gunung dengan status awas.

Dalam papernya, menurut peneliti Matteo Lupi, Gunung Sinabung merupakan salah satu dari banyak gunung berapi yang berada di wilayah subduksi Sumater di Laut India. Wilayah ini merupakan bagian dari Cincin Api, sebuah lokasi geologi yang sangat aktif. Kaldera di Danau Toba, yang terletak 40 kilometer dari tenggara Gunung Sinabung, merupakan lokasi dari erupsi supervulkanik di bumi, yang terjadi 75.000 tahun lalu. 

Relawan Bencana, Ma'rufin Sudibyo menuturkan, sebuah studi yang dituliskan peneliti Matteo Lupi dan Stephen Miller menunjukkan, kemungkinan hubungan antara rangkaian gempa di Sumatera dengan aktifnya kembali Gunung Sinabung setelah terlelap 1.200 tahun.

Dalam papernya tersebut, dijelaskan Gunung Sinabung kemungkinan aktif kembali karena imbas dari gempa gempa akbar Simeulue-Nias 28 Maret 2005 dengan magnitude 8,7 skala richter, kemudian disusul gempa akbar berganda Mentawai-Enggano 12 September 2007 dengan magnitude 7,9 dan 8,4 skala richter.

Rentetan gempa tersebut yang disusul sejumlah gempa darat di berbagai titik dalam sistem patahan besar Sumatera menyebabkan tegasan (stress) yang selama ini menekan dan menyungkup dapur magma Sinabung melemah. Akibat pelemahan itu, memungkinkan magma bermigrasi ke atas melewati retakan-retakan baru yang terbentuk hingga akhirnya meluap dari puncak. 

Ma'rufin menjelaskan, letusan gunung berapi khususnya erupsi magmatik akan berhenti bila tekanan magma segarnya sudah tidak sanggup lagi mendorong magma keluar menuju permukaan Bumi. 

"Jadi bukan soal habis tidaknya magmanya (gunung berapi). Kalaupun masih ada magma segar di dalam kantung magma sebuah vulkan, tapi tekanannya sudah cukup lemah ya letusan akan berhenti," kata dia kepada VIVA.co.id, Kamis 3 Agustus 2017. 

Dalam kasus Gunung Sinabung, kata Ma'rufin, tekanan terhadap magma segar bisa dilihat, salah satunya melalui kejadian-kejadian gempa vulkanik dalam dan dangkal di sekitar gunung. 

"Dalam kasus Sinabung masih tinggi, artinya masih ada tekanan kuat yang mendorong magma segar ke atas hingga kini," kata dia. 

Tim Tanggap Darurat Gunung Sinabung Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat, erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, telah terjadi luncuran awan panas sebanyak 19 kali, Rabu 2 Agustus 2017. Selain itu, tercatat tingginya awan panas dengan tertinggi 4,5 kilometer. Kemudian, abu vulkanik tertinggi 4,2 kilometer. Dengan Arah guguran awan panas ke Tenggara-Timur, ke arah Sigarang Garang, Sukanalu dan Gamber.