Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 10 Agustus 2017 | 12:26 WIB
  • Fosil Gigi di Sumatera Ubah Sejarah Manusia di Asia Tenggara

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis,
    • Afra Augesti
Fosil Gigi di Sumatera Ubah Sejarah Manusia di Asia Tenggara
Photo :
  • www.cosmosmagazine.com/Julien Louys
Mulut Gua Lida Ajer, Padang, Sumatera

VIVA.co.id – Fosil gigi ditemukan di sebuah situs gua kuno di Sumatera, Indonesia. Gua ini sebelumnya ditengarai oleh para ilmuwan telah hilang selama lebih dari satu abad karena proses ilmu alam. Penemuan ini mengungkapkan, manusia telah tinggal di Pulau Sumatra sejak 63 ribu sampai 73 ribu tahun yang lalu atau 20 ribu tahun lebih awal dari perkiraan sebelumnya.

Fosil gigi yang ditemukan di sebuah situs gua Lida Ajer, di Dataran Tinggi Padang, pesisir barat Sumatra, memberikan bukti awal tentang manusia modern yang hidup di hutan hujan yang diadaptasi untuk membuka tempat bertahan hidup berupa padang rumput. Hutan hujan merupakan sebuah lingkungan yang dikenal sangat menantang bagi Homo sapiens yang baru masuk.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature ini telah menyebar di beberapa daerah. Bersamaan dengan penelitian terbaru, yang menunjukkan kedatangan manusia modern diperkirakan lebih awal di Laos utara, penemuan fosil di Sumatera ini berpotensi mengatur ulang rentang waktu kedatangan Homo sapiens di Asia.

Pada akhirnya, para peneliti harus memeriksa ulang mengenai batas waktu migrasi manusia modern ketika keluar dari Benua Afrika. Temuan ini juga bisa berdampak pada penelitian yang menyatakan kedatangan manusia paling awal ada di Australia.

Penemuan fosil gigi yang terdiri dari gigi seri dan gigi molar, sebenarnya ditemukan oleh ahli paleoantropologi Belanda dan penjelajah Eugene Dubois pada akhir abad ke-19. Kala itu, Dubois mengklasifikasikan mereka sebagai hominin. Segera setelah itu, gigi dan fosil lain yang ditemukan, termasuk situs Lida Ajer, yang hilang dari kajian akademis.

Diperkirakan, ini disebabkan oleh ketidakpastian mengenai usia artefak karena catatan yang tidak lengkap dan praktik penggalian yang buruk. Akibatnya, Sumatera tidak pernah ditampilkan dalam penelitian serius untuk memetakan arus masuk manusia ke Asia.

Gigi itu diperiksa ulang 70 tahun lalu oleh ahli paleontologi Belanda lainnya, Dirk Hooijer. Dia mengidentifikasi gigi itu milik manusia modern, namun tidak dapat memberikan waktu pasti untuk manusia modern ini. Bukti spesies hominin lainnya di wilayah Sumatera, terutama Homo erectus dan Homo floresiensis, menimbulkan pertanyaan tentang keakuratan temuannya.

Hal ini mendorong sebuah tim ilmuwan yang dipimpin oleh Kira Westaway dari Macquarie University, Australia, melakukan perjalanan ke lokasi fosil untuk mendapatkan bukti akurat mengenai waktu masuk dari manusia pemilik gigi tersebut dan untuk memeriksa kembali gigi itu.

"Bagian tersulit adalah saat kami berusaha menemukan situs itu kembali. Kami hanya memiliki sketsa gua dan peta kasar dari salinan buku catatan asli Dubois," ujar Westaway, mengutip laman Cosmos Magazine, Kamis 10 Agustus 2017.

Analisis baru

Sesampainya di lokasi, mereka mulai mendata lapisan deposit di dalam gua tempat gigi berada, dengan menggunakan dua jenis analisis thermoluminescence. Pendataan tambahan uranium-thorium, membantu dalam memberikan informasi pendukung. Selanjutnya, dilakukan serangkaian pemeriksaan pada fosil gigi itu, termasuk morfologi enamel gigi, ketebalan enamel dan morfologi komparatif dari gigi tersebut.

Hasilnya mengkonfirmasi temuan Hooijer bahwa fosil ini berasal dari anggota genus Homo lainnya. Dari hasil pendataan lokasi dan fosil lainnya menyatakan, rentang usia gigi itu adalah 63.000 sampai 73.000 tahun. Meski sebelumnya sudah ada klaim untuk temuan manusia modern di Sumatera sebelum 60.000 tahun yang lalu, akan tetapi bukti tersebut adalah bukti tidak langsung dan perlu untuk dipertanyakan.

Yang lebih menarik lagi, bukti itu berasal dari sebuah situs yang diketahui pernah berada di dalam hutan hujan yang tidak terdeteksi pada saat itu. Migrasi manusia ke wilayah yang sebelumnya tidak berpenghuni, diperkirakan telah terjadi. Terutama di sepanjang rute pantai, karena lingkungan laut terbuka mampu menyediakan akses paling mudah dan paling banyak makanan.

"Sebaliknya, hutan hujan dengan sumber musimannya, luas wilayahnya, fauna langka yang kaya akan lemak, dan kelangkaan tumbuhan yang kaya akan karbohidrat, menghadirkan kesulitan serius untuk pergerakan dan kolonisasi hominin yang berkembang di lingkungan terbuka. Eksploitasi lingkungan hutan hujan yang sukses membutuhkan kapasitas untuk perencanaan dan inovasi teknologi yang kompleks, ciri khas spesies kita," tulis para peneliti.

Fosil Lida Ajer, selanjutnya, mengindikasikan bahwa serangan dari lingkungan pesisir ke hutan terjadi lebih awal dari perkiraan sebelumnya, mungkin sangat dekat dengan saat kedatangan pertama.