Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 15 Agustus 2017 | 10:38 WIB
  • Inovasi Baru, Smartphone Bisa Disulap Jadi Laboratorium

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis
Inovasi Baru, Smartphone Bisa Disulap Jadi Laboratorium
Photo :
  • VIVA.co.id/Getty Image
Ilustrasi laboratorium

VIVA.co.id – Smartphone di tangan peneliti Department of Bioengineering, Universitas Illinois Amerika Serikat, menjadi semakin multifungsi. Dengan tangan dingin peneliti, smartphone bisa dioptimalisasi menjadi laboratorium mobile.

Peneliti universitas tersebut telah mengembangkan perangkat yang bisa terkoneksi dengan smartphone dan kemudian berfungsi sebagai laboratorium. Alat yang membantu smartphone menjadi laboratorium tergolong tidak mahal. Menariknya, laboratorium dari smartphone ini mampu menjalankan serangkaian akses medis yang tidak bisa dilakukan laboratorium tradisional. 

Dikutip dari Futurism, Selasa 15 Agustus 2017, perangkat yang dipakai peneliti yaitu spectral transmission-reflectance-intensity (TRI)-Analyzer. Perangkat ini menggunakan cahaya dan analisis spektral untuk melakukan banyak hal yang umum dikerjakan pada uji laboratorium. 

"TRI-Analyzer kami bisa dikatakan seperti pisau Swiss Army untuk sensor biologis," jelas peneliti. 

Salah satu penulis dalam studi tim tersebut, Kenny Long mengatakan, dengan kemampuannya TRI-Analyzer mampu beradaptasi untuk melakukan bermacam uji tanpa memerlukan laboratorium khusus. 

Laman Massdevice menuliskan, perangkat TRI-Analyzer dipakai dengan disematkan pada smartphone. Kemudian smartphone bisa menganalisis darah, urine, air liur pasien sehingga bisa dibandingkan dengan instrumen berbasis klinis.

"Analyser kami bisa memindai banyak uji secara berurutan dengan menggesekkan katrid perangkat melewati kepala pembacaan," ujar Long. 

Dia menuturkan skema pemindaian yang dilakukan TRI-Analyzer sama halnya dengan cara pengguna menggesekkan kartu kredit pada mesin magnetik. 

Direktur Micro + Nanotechnology Lab Universitas Illinois, Donald Willett mengatakan, perangkat yang dikembangkan mereka mampu melakukan uji diagnosa medis yang paling umum. Tapi untuk tahap awal ini, TRI-Analyzer masih dicoba untuk menjalankan dua uji diagnosa medis.

Dia menuturkan, begitu perangkat disematkan kamera smartphone diubah menjadi spektrometer berkinerja tinggi. Kemudian LED flash pada smartphone dimanfaatkan untuk menerangi sampel cairan pasien.  

Diharapkan inovasi ini akan menolong akses medis di area yang sangat membutuhkannya. Dengan biaya perangkat yang hanya US$550 atau Rp7,3 juta dan mobile membuat cocok diterapkan melayani pasien di area tertinggal dan terbelakang di seluruh dunia.