Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 15 Agustus 2017 | 17:23 WIB
  • Kominfo Sebut 5G Bakal Makin Problematik

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis,
    • Afra Augesti
Kominfo Sebut 5G Bakal Makin Problematik
Photo :
  • www.v3.co.uk
Ilustrasi 5G

VIVA.co.id – Pemimpin teknologi global baru-baru ini mempercepat rilis spesifikasi 5G New Radio (NR), standar global 5G. Sedangkan Qualcomm Technologies, Ericsson, Nokia, dan pemimpin industri komunikasi seluler lainnya berperan penting dalam mempercepat jadwal standardisasi 5G NR untuk uji coba skala besar pada 2019.

Melihat potensi yang besar yang dapat ditawarkan oleh implementasi 5G, baik bagi konsumen maupun ekonomi global, penting bagi Indonesia untuk sedini mungkin mempersiapkan diri menyambut era 5G ini. Indonesia seharusnya tidak hanya sekadar pasar dan pengguna teknologi ini saja, tetapi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan harus bisa melihat peluang yang ada dari era 5G.

Kepala Riset dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Komunikasi dan Informatika, Basuki Yusuf Iskandar menuturkan, pemerintah masih memiliki segudang pekerjaan rumah atau PR dalam mengadopsi 5G. Itulah mengapa, penerapan teknologi ini akan sedikit terlambat. Sebab, Indonesia harus bisa memetakan terlebih dahulu, seperti apa penerapan 5G di negara-negara lain.

"Betul, 5G akan lebih problematik. Kita bukan terlambat (menerapkan 5G) ya, lebih awal tapi tidak terlalu awal supaya kita bisa melihat pengalaman dari negara lain. Kita belum punya bayangan mengatur data service supaya berkembang di dalam negeri, pelayanan data. Nah, nanti akan ada suatu adjustment (pengaturan) regulasi yang harus kita lakukan. Banyak PR sbelum mengadopsi 5G," ucapnya usai mengisi seminar  '5G Policy, Technology, and Regulatory Perspective' di gedung World Trade Center I, Karet, di Jakarta, Selasa, 15 Agustus 2017.

Ketika spesifikasi teknis sudah hampir rampung dikerjakan, tantangan selanjutnya terletak memastikan penggunaan sumber daya frekuensi yang cukup dan paling memadai untuk 5G. Pada dasarnya, 5G merupakan jaringan yang dapat menggunakan seluruh band spektrum, mulai dari band rendah seperti 1GHz, band sedang di sekitar 1GHz hingga 6GHz, hingga band tinggi di atas 24GHz yang juga dikenal sebagai milimeter wave.

Selain itu, teknologi ini juga mampu bekerja di seluruh spektrum, baik berbayar (unlicensed), berbagi (shared), maupun tidak berbayar (unlicensed). Saat ini, beberapa negara telah mengumumkan untuk melakukan uji coba 5G termasuk Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, Eropa dan Amerika.

"Itu (alokasi spektrum 5G) banyak variasi. Saya baru dapat (berita) tadi, kaget. Dulu kan dua delapan (28 Ghz), sekarang bergeser ke 30 (GHz). Saya enggak ngerti. Saya kira, itu (5G) spektrum baru, yang di atas loh. Tapi ada lagi pasangan di bawah, yang di bawah ini mungkin agak problematik lagi, tapi konservatif," ucap mantan Sekretaris Jenderal Kominfo ini.

Sementara itu, Senior Director and Head of Government Affairs, SEA, Taiwan & Pacific Qualcomm Technology International, Julie Welch, mengimbau pemerintah Indonesia untuk memulai perumusan peraturan 5G dan mengidentifikasi potensi dan alokasi spektrum untuk 5G.

Merupakan hal penting bagi pemerintah Indonesia untuk mempertimbangkan perumusan regulasi dalam mengadopsi 5G. Poin ini diperlukan agar dapat mengakomodasi kepentingan dari semua pihak, termasuk di dalamnya penentuan penggunaan spektrum frekuensi 28 GHz dan konsolidasi semua operator.

"Percepatan komersialisasi 5G NR secara global menjanjikan tingkat kapabilitas dan efisiensi baru yang mampu memberikan kecepatan, layaknya jaringan fiber, latensi yang sangat rendah, pengalaman pengguna yang konsisten dan juga biaya paket data yang lebih murah," papar Julie. (ase)