Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 16 Agustus 2017 | 10:36 WIB
  • Ingin Adopsi Teknologi 5G, Ini Tantangan untuk Indonesia

  • Oleh
    • Lazuardhi Utama,
    • Afra Augesti
Ingin Adopsi Teknologi 5G, Ini Tantangan untuk Indonesia
Photo :
  • www.v3.co.uk
Ilustrasi Teknologi 5G.

VIVA.co.id – Senior Director and Head of Government Affairs Asia Pacific Qualcomm International, Julie Welch, mengungkapkan tantangan penerapan teknologi 5G di Indonesia.

Menurutnya, ada tiga hal yang harus diperhatikan pemerintah dalam mengadopsi teknologi 5G yakni ketersediaan spektrum frekuensi, regulasi, dan kesiapan ekosistem.

"Tantangannya adalah ketersediaan spektrum frekuensi untuk men-support teknologi ini. Untuk ke arah sana pemerintah harus membuat keputusan penting soal kebijakan 5G secara general dan spektrum itu sendiri," katanya kepada VIVA.co.id, Rabu, 15 Agustus 2017.

Ia mengatakan, pemerintah harus mempertimbangkan alokasi spektrum frekuensi, karena sebagai syarat utama untuk mengaplikasikan teknologi 5G.

"Spektrum frekuensi bisa mengirim data bit yang efisien dengan low latency (seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengirim pesan)," ungkapnya.

Selain itu, Welch menambahkan bahwa regulasi juga dibutuhkan untuk mewadahi teknologi 5G. Sebab, memiliki kapasitas dan kecepatan yang berbeda jauh serta lebih tinggi daripada jaringan lainnya, termasuk beberapa aspek yang berbeda dari teknologi 4G.

Selanjutnya, untuk masalah ekosistem, ketersediaan perangkat dan jaringan harus yang mudah didapat agar pengguna bisa menikmatinya.

"Mengenai ketersediaan perangkatnya yang low cost maupun kesiapan network dari operator, maka harus didukung supaya bisa memberikan user experience 5G," tegasnya.

Ia menyimpulkan, sebelum melakukan uji coba teknologi 5G pertama kali pada 2019, Indonesia harus mempunyai kejelasan mengenai standardisasi supaya akselerasi atau percepatan adopsi teknologi ini lebih mumpuni.

"Kita semua tahu banyak negara yang berencana memiliki global standard 5G seperti AS, Korea Selatan, dan Jepang. Sebelum rilis, harus ada standardisasi yang jelas untuk akselerasi yang lebih mumpuni. Baik untuk produksi perangkat, infrastruktur jaringan oleh operator, dan lain-lain," kata Julie. (ase)