Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Minggu, 27 Agustus 2017 | 06:14 WIB
  • Belajar dari Saracen, Ini Cara Kominfo Hadapi Info Hoax

  • Oleh
    • Lutfi Dwi Puji Astuti,
    • Bobby Agung
Belajar dari Saracen, Ini Cara Kominfo Hadapi Info Hoax
Photo :
  • VIVA.co.id/twitter
Tampilan muka akun Twitter SaracenNews.com.

VIVA.co.id – Kementerian Komunikasi dan Informatika, atau Kominfo terus bekerja keras, seiring meningkatnya jumlah situs dan akun dengan konten negatif.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kominfo, Samuel Abrijani Pangerapan berujar bahwa setiap harinya, tim Kominfo mesti memblokir situs dan akun dengan alasan tertentu. Ada beberapa kriteria yang akan diberantas.

"(Situs dan akun) yang mendominasi kebanyakan pornografi, hoax, ujaran kebencian, judi, dan penipuan," ujarnya, saat ditemui di kawasan Gambir, Jakarta Pusat pada Sabtu, 26 Agustus 2017.

Pihak Kominfo melakukan identifikasi berdasarkan laporan yang diterima dari masyarakat. Selain itu, mereka juga memiliki tim yang khusus memindai setiap akun dan situs lewat jelajah internet.

Lebih lanjut, Samuel menjabarkan transparansi pemblokiran per Juli 2017 kemarin. Total situs dan akun yang diblokir, bahkan hampir mencapai angka 6.000-an.

"Kalau kita lihat grafiknya, khusus ujaran kebencian, fitnah, dan hoax saja, itu tinggi. Terus, Februari sampai April turun, Mei tiba-tiba muncul lagi, enggak tahu ada apa itu. Setelahnya, kembali turun. Jadi, naik turun sesuai dengan isunya," kata Samuel.

Terkait kasus Saracen yang mencuat akhir-akhir ini, pihak Kominfo menjadikannya pembelajaran untuk seluruh warganet Tanah Air. Ia ingin, agar masyarakat menanamkan kewaspadaan dalam melihat konten dalam jejaring yang dengan mudahnya dapat difabrikasi.

"Dengan memahami itu, kita bisa lebih berhati-hati dalam membaca berita. Siapa yang menulis berita? Medianya sudah punya kredibilitas belum? Sudah menjalankan kaidah-kaidah jurnalistik belum?" tuturnya.

Menurutnya, jika warganet belum yakin dengan konten yang akan disebar, upayakan untuk mencari klarifikasi secara jelas. Jangan sampai salah kaprah, ketika hendak membagikannya dalam media sosial masing-masing.

"Kalau rasanya enggak penting dan enggak enak, ya enggak usah disebarin. Dengan kejadian Saracen ini, masyarakat diharapkan makin tinggi kewaspadaannya," ujar Samuel. (asp)