Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 30 Agustus 2017 | 05:30 WIB
  • Rahasia Mengapa Kambing Punya Bau Prengus

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis
Rahasia Mengapa Kambing Punya Bau Prengus
Photo :
  • www.pixabay.com/capri23auto
Ilustrasi kambing

VIVA.co.id – Sebentar lagi umat muslim di Indonesia akan merayakan Hari Raya Idul Adha. Dalam hari raya tersebut, kaum muslim mengurbankan hewan. Biasanya hewan yang dikurbankan yakni kambing atau sapi. Sisi yang khas dari kambing yakni baunya. Orang mengenal bau kuat dari kambing dengan sebutan ‘prengus’.

Peneliti dari Universitas Tokyo, Jepang sudah meneliti rahasia dari bau prengus kambing pada 2014. Dikutip dari Sciencenews, Selasa 29 Agustus 2017, setelah meneliti bau kambing, tim peneliti yang dipimpin Ken Murata itu menemukan ada sejumlah senyawa yang bertanggung jawab pada bau tersebut. Peneliti menemukan, senyawa tersebut pada kepala kambing. 

Senyawa yang terkuat adalah 4-etiloktanal ternyata menghasilkan pemikat bagi kambing betina untuk menuju ovulasi. Jejak ini menunjukkan zat kimia yang dilepaskan binatang ke lingkungan atau feromon, memengaruhi perilaku atau fisiologi spesies lainnya. 

Untuk sampai pada kesimpulan tersebut, tim Murata mengambil sampel senyawa pada kepala kambing dengan menggunakan topi khusus. Topi tersebut dirancang bisa mengisolasi senyawa dan bisa menyerap volatil, bahan kimia yang merupakan uap pada suhu ruangan. 

Dari analisis senyawa yang diserap topi tersebut menunjukkan, kambing jantan memancarkan koktail bahan kimia yang kompleks dari kepala jauh dibanding kambing jantan yang telah dikebiri. 

Peneliti kemudian mengambil sampel sinyal listrik pada otak pada kambing betina. Secara khusus peneliti melihat nukleus hipotalamus berbentuk lengkung, area yang melepaskan hormon seperti gonadotropin-releasing hormone atau GnRH. Peneliti menjelaskan, GnRH menandakan pelepasan hormon luteinzing, hormon yang berperan dalam ovulasi kambing betina. 

Nah saat kambing betina mengendus feromon kambing jantan, tim Murata menemukan adanya sinyal GnRH pada kambing betina makin meningkat lebih cepat dan besar. Karena adanya pelepasan GnRH meningkat maka dengan otomatis juga pelepasan hormon luteinizing juga melonjak. Peneliti menyimpulkan dinamika peningkatan hormon itu membuat kambing betina terangsang menjadi aktif secara seksual. 

Fakta lainnya, saat terpapar udara, senyawa 4-etiloktanal terkonversi menjadi asam 4-etiloktanoat, yang membuat kambing bau prengus. Kambing jantan bisa menarik sang betina dengan menggunakan senyawa tersebut.

Hasil temuan tim Murata itu mendapat sambutan positif dari pakar neuroendokrinologi di Universitas Western Australia, Jeremy Smith. Menurutnya identifikasi feromon pada kambing akan membuka jalan bagi identifikasi feromon pada spesies lain. 

"Jika kita tahu struktur kimia dasar pada kambing, maka kita bisa mencari, menguji senyawa serupa pada domba dan sapi," ujar Smith.  

Hasil penelitian tim Murata telah dipublikasikan di jurnal Current Biology.