Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 8 September 2017 | 17:17 WIB
  • Survei: Air Keran di Jakarta Terkontaminasi Mikroplastik

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis,
    • Afra Augesti
Survei: Air Keran di Jakarta Terkontaminasi Mikroplastik
Photo :
  • REUTERS/TOBY MELVILLE
Air keran kering

VIVA.co.id – Sebuah studi yang dilakukan Orb Media mengumumkan, hampir semua air keran dunia terkontaminasi serat mikroplastik. Pencemaran ini menimbulkan kekhawatiran baru tentang implikasi polusi plastik terhadap kesehatan manusia dan planet.

Dari studi tersebut, Orb Media mengumpulkan 83 persen sampel air keran yang dikumpulkan dari lebih belasan negara di lima benua, positif mengandung mikroplastik. Spesifikasi dari tingkat prevalensi di tempat-tempat tersebut bervariasi, namun semua lokasi yang diuji, mulai dari Eropa, Beirut sampai Jakarta, menunjukkan plastik ditemukan di lebih dari 70 persen sampel air keran.

Dikutip dari Time, Jumat 7 September 2017, untuk sampel di Amerika Serikat, periset menemukan 94 persen dari semua sampel air, termasuk air keran dari tempat-tempat seperti Menara Trump dan kantor pusat Environmental Protection Agency, terkontaminasi oleh plastik. Fragmen mikroskopik ini memasuki sistem air dengan berbagai cara, seperti misal dari pakaian serat sintetis, sampah ban, serta potongan plastik berukuran lebih besar yang tidak dapat terurai secara hayati.

Tercatat setiap tahunnya sekitar 300 juta ton plastik diproduksi. Memburuknya masalah kontaminasi ini terlihat dengan semakin banyaknya sampah-sampah plastik mengapung di tengah lautan dan sungai yang bahkan memiliki aliran deras. Perhatian riset sebelumnya berfokus pada efek polusi plastik pada kehidupan laut, burung laut dan rantai makanan manusia, namun kehadiran mikroplastik dalam tubuh manusia mengalihkan dunia peneliti.

"Ada sesuatu yang menghubungkan kita, yaitu udara, air, tanah. Dan pelajaran berharga dari penelitian ini adalah jika Anda mencemari ketiga unsur tersebut, maka ini akan masuk ke diri kita juga," kata  ahli polusi plastik State University of New York, Freedonia Amerika Serikat, Sherri Mason.