Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 14 September 2017 | 20:20 WIB
  • Dahsyat, Indonesia Dibombardir Ribuan Serangan Siber

  • Oleh
    • Lazuardhi Utama,
    • Afra Augesti
Dahsyat, Indonesia Dibombardir Ribuan Serangan Siber
Photo :
  • REUTERS/Kacper Pempel
Ilustrasi hacker.

VIVA.co.id – Sales Director Trend Micro Indonesia, Laksana Budiwiyono, menegaskan sepanjang Januari 2016 hingga Juni 2017 banyak diwarnai dengan kejadian serangan keamanan ke Internet of Things (IoT/internet segalanya) dan propaganda siber.

"Serangan paling banyak di Indonesia itu WannaCry, ada 2.497 serangan. Enam puluh tujuh persen masuk melalui email, 29 persen lewat web dan 4 persen dari copy file (menggandakan data). Kebanyakan menyusup melalui apps di mobile," ungkapnya di Jakarta, Kamis 14 September 2017.

Perusahaan solusi keamanan siber itu menjelaskan, sepanjang Januari hingga Juni 2017, serangan ransomware WannaCry dan Petya berhasil mengacak-acak ribuan perusahaan di berbagai lini industri global.

Kerugian yang diderita perusahaan-perusahaan yang terkena virus tersebut, secara global, dilaporkan mencapai US$4 miliar. "Untuk Petya, data yang kami terima sudah menginfeksi 300 ribu komputer worldwide. Beberapa negara yang terkena parah yaitu Eropa, China dan Rusia," tuturnya.

Hasil riset yang dilakukan oleh Trend Micro bersama Politecnico de Milano (Polimi) menunjukkan bahwa ada celah keamanan pada sistem robotika, dengan potensi kerugian finansial yang banyak.

Maka dari itu, Laksana menegaskan, penting bagi sebuah perusahaan untuk menerapkan sistem keamanan berbasis teknologi cerdas atau smart technology.

Selain itu, sepanjang semester pertama tahun ini terjadi peningkatan penyalahgunaan media sosial melalui propaganda siber. Maraknya fake news atau publisitas jahat yang memanfaatkan mesin-mesin cerdas.

Ini tak lepas dari mudahnya mendapatkan mesin-mesin piranti pendukung kejahatan. "Mesin-mesin itu dijual dengan bebas di jaringan pasar siber gelap bawah tanah," ujar Laksana.

Kejahatan seperti ini, menurut Laksana, berpotensi memporakporandakan keuangan bisnis akibat terkoyaknya reputasi dan brand equity bisnis oleh propaganda siber jahat yang dilancarkan.

Untuk itulah, Trend Micro menciptkan solusi Xgen Security, versi terbaru perangkat lunak untuk mengintegrasikan keamanan dengan machine learning.

Sistem ini telah memperluas kemampuannya dalam melindungi pengguna dari ransomware dan ancaman berbahaya lainnya, dengan memberikan perlindungan yang andal yang mampu memblokir 250 juta ancaman per hari. (ase)