Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 20 September 2017 | 17:52 WIB
  • Kalender Bulan Vs Matahari, Ini Plus Minusnya

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis
Kalender Bulan Vs Matahari, Ini Plus Minusnya
Photo :
  • Pixabay
Ilustrasi kalender.

VIVA.co.id – Umat Islam di Indonesia merayakan pergantian tahun Hijriyah pada malam ini. Rabu 20 September 2017 menjelang petang merupakan akhir tahun dari kalender 1438 Hijriyah. Sedangkan setelahnya, Rabu malam atau Kamis 21 September 2017 dalam kalender Masehi sudah masuk sebagai hari pertama tahun baru 1439 Hijriyah. 

Perhitungan tahun bari Hijriyah memang berbeda dengan kalander tahun baru Masehi. Kalender Islam tersebut berbasis pada perubahan fase Bulan, sedangkan kalender Masehi berbasis perhitungan matahari. Kedua kalender punya waktu yang sama dalam setahun yaitu 12 bulan. 

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin menuturkan, kalender Hijriyah yang berbasis bulan dan Masehi yang berbasis matahari masing-masing punya keunggulan dan kelemahan.

Thomas menjelaskan, untuk kalender bulan, punya keunggulan mudah dilihat perubahan tanda-tandanya dari hari ke hari. Sebab penampakan fase bulan bisa dilihat dari bulan sabit atau hilal, purnama sampai bulan tua. Makanya kemudahan ini dimanfaatkan bagi perayaan acara keagamaan berbagai agama. 

"Sehingga digunakan untuk kegiatan ritual hampir semua agama, yaitu puasa dan hari raya bagi Islam, Nyepi bagi Hindu, Waisak bagi Budha, dan Paskah bagi Kristiani," ujar Profesor Riset Astronomi-Astrofisika Lapan tersebut. 

Kelebihan lain dari kalender Hijriyah, kata Thomas, yakni ada tahun 0, yang mana dimulai saat Rasulullah SAW berhijrah dari Mekah ke Madinah. Karena tahun HIjriyah adalah jumlah tahun setelah selesai Rasul SAW hijrah, maka 1439 Hijriyah artinya 1439 tahun setelah Rasul hijrah.

"Sedangkan kalender matahari Masehi dimulai dari tahun 1," tuturnya.

Tapi kelemahan dari kalender bulan yaitu susah untuk menyatukan penggunaan kalender ini diberbagai negara. Sebab garis awal bulan tiap bulan berubah.  "Hanya dengan kesepakatan penyatuan bisa dilakukan," jelasnya. 

Kalender Matahari

Sedangkan kalender matahari punya keunggulan untuk penyesuaian musim. Thomas mengatakan, kalender matahari punya keunggulan terkait dengan perubahan musim sehingga cocok untuk kegiatan umum yang memperhitungkan musim. Kalender ini cocok diterapkan dalam bidang pertanian, pelayaran, jadwal aktivitas akademik dan lainnya. 

Kelemahan kalender matahari yaitu tidak bisa dikenali di alam untuk perubahan hari ke hari, beda dengan kalender bulan yang bisa mengenalinya dari bentuk fase bulan. 

"Dengan kalender matahari, kita tidak bisa mengenali perubahan tanggal. Misalnya, tanggal 1 tidak ada bedanya dengan tanggal 2," jelas Anggota Tim Hisab Rukyat, Kementerian Agama RI tersebut. 

Thomas menuturkan, untuk kalender bulan, tanggal 1 ditandai dengan hilal atau bulan sabit pertama, yang terjadi sesudah matahari terbenam. Sementara tanggal 2 pada kalender bulan bisa dilihat dengan fase bulan sabit yang kian tebal dan makin tinggi. 

"Tanggal 7 bulan setengah lingkaran. Tanggal 14-15 ditandai dengan purnama. Tanggal 21 ditandai dengan setengah lingkaran lagi. Akhir bulan tandanya bulan sabit tua menjelang matahari terbit," kata Thomas.

Hilang 10 hari

Thomas mengatakan, sistem kalender yang mapan mensyaratkan tiga hal, pertama adanya otoritas (penguasa) tunggal yang menetapkannya, kedua ada kriteria yang disepakati dan ketiga ada batasan wilayah keberlakukan (nasional atau global)

Dalam sejarah, kalender Masehi punya kelemahan yakni ketidakakuratan, sehingga membuat penghilangan 10 hari pada tahun 1582. 

Dalam blog pribadinya, Thomas menuliskan, dasar kalender Masehi ditetapkan pada 46 Sebelum Masehi (SM) oleh Kaisar Julius dengan penasihatnya astronom Sosigense.

Ada 3 kriteria yang ditetapkan. Pertama, vernal equinox (awal musim semi, saat malam dan siang sama panjangnya) ditetapkan 25 Maret dengan menjadikan tahun 46 SM lebih panjang 85 hari. Kedua, awal tahun ditetapkan 1 Januari 45 SM. Ke tiga, menetapkan jumlah hari dalam satu tahun 365 hari, kecuali setiap tahun ke empat menjadi tahun kabisat dengan penambahan hari pada bulan Februari. Ketika diketahui ada pergeseran vernal equinox, kriterianya diubah pada 325 M. Vernal equinox ditetapkan menjadi 21 Maret.

Namun, kata Thomas, ketidakakuratan kriteria menyebabkan vernal equinox terus bergeser.  Pada 1582 vernal equinox sudah bergeser menjadi 11 Maret. Atas saran astronom pula, Paus Gregorius sebagai otoritas tunggal saat itu dalam penetapan kalender mengubah lagi kriteria kalender.

Pertama, mengembalikan vernal equinox pada 21 Maret dengan cara menghilangkan 10 hari dari tahun 1582 dengan menetapkan Kamis 4 Oktober langsung menjadi Jumat 15 Oktober.  Kedua, rata-rata satu tahun ditetapkan 365,2425 hari. Caranya, tahun kabisat didefinisikan sebagai tahun yang bilangannya habis dibagi empat, kecuali untuk tahun yang angkanya kelipatan 100 harus habis dibagi 400. Dengan aturan tersebut tahun 1700, 1800, dan 1900 bukan lagi dianggap sebagai tahun kabisat. Tahun 2000 adalah tahun kabisat.

Thomas menjelaskan, kriteria Gregorius pada kalender matahari punya penyimpanan 0,0003 hari. Artinya setelah 10 ribu tahun baru perlu pemotongan 3 hari. 

"Pada 4 Oktober (1582) langsung melompat ke 15 Oktober 1582 (dihilangkan 10 hari), agar pada 21 Maret posisi matahari kembali ke titik musim semi di Rasi Aries," jelas Thomas.