Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 22 September 2017 | 07:45 WIB
  • Burung Hantu Punya Pendengaran Awet Muda, Ini Rahasianya

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis,
    • Afra Augesti
Burung Hantu Punya Pendengaran Awet Muda, Ini Rahasianya
Photo :
  • wallpapersonview.com
Burung Hantu

VIVA.co.id – Para ilmuwan mengungkapkan burung hantu Barn masih tetap memiliki pendengaran yang baik sampai usia tua. Sebelumnya, ilmuwan menganggap hanya burung jalak yang memiliki kemampuan ini, tapi fakta di lapangan menunjukkan bukti lain. Ini berarti, sistem pendengaran burung tersebut dilindungi dari rapuhnya usia mereka.

Memahami lebih banyak tentang ‘telinga awet muda’ dari seekor burung hantu, dinilai dapat membantu mengembangkan perawatan untuk masalah pendengaran manusia. Ilmuwan mengatakan, anggota kelompok hewan bertulang belakang ini mampu secara alami memperbaiki kerusakan pada telinga bagian dalam.

Peneliti University of Oldenburg, Jerman, George Klump mengatakan burung hantu terus memelihara pendengaran mereka sampai usia yang sangat tua.

"Burung bisa memperbaiki telinga mereka sendiri, layaknya manusia yang bisa mengobati luka. Manusia tidak bisa menumbuhkan kembali sel sensoris telinga, tapi burung bisa melakukan ini," kata Klump dalam studi tersebut, dikutip dari BBC, Kamis 21 September 2017.

Klump menjelaskan, kebanyakan manusia kehilangan kemampuan regeneratifnya saat berevolusi. Seperti mamalia pada umumnya, manusia cenderung menderita gangguan pendengaran di usia tua. Pada usia 65 tahun, manusia dapat kehilangan sensitivitas lebih dari 30 desibel (dB) pada frekuensi tinggi.

Jika tingkat kebisingan adalah 30 dB, artinya 30 dB di atas nilai ambang suara yang dapat didengar oleh manusia dengan pendengaran normal atau sekitar 1000 kali dari suara yang dapat didengar oleh manusia.

Salah satu peneliti dalam studi tersebut Stefan Heller, mengatakan ia dan timnya sedang menyelidiki perbedaan antara burung dan mamalia.

"Untuk benar-benar memanfaatkan pengetahuan ini, kita perlu melakukan studi banding antara burung dan mamalia. Tujuannya yakni untuk menemukan perbedaan dari kapasitas regeneratif, topik yang secara aktif dikejar oleh sejumlah laboratorium di seluruh dunia,"  ucap Heller, doktor Stanford University School of Medicine Amerika Serikat.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Royal Society Proceeding B ini dilakukan pada tujuh ekor burung hantu Barn atau disebut Tyto alba dalam nama binominalnya. Burung-burung tersebut dilatih untuk terbang ke tempat bertengger mereka untuk kemudian menerima hadiah makanan sebagai respons terhadap suara.

Bahkan burung hantu tertua, yang mencapai usia lanjut 23 tahun, tidak menunjukkan tanda-tanda gangguan pendengaran terkait usia. Burung hantu raksasa biasanya hanya hidup sampai usia tiga atau empat tahun di alam bebas. Sebagian besar jenis burung hantu mengandalkan pendengaran mereka untuk berburu mangsa di malam hari.