Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 26 September 2017 | 06:12 WIB
  • Gunung Agung dan Efek Pendinginan Bumi

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis
Gunung Agung dan Efek Pendinginan Bumi
Photo :
  • ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana
Gunung Agung berstatus Awas. Terakhir kali meletus pada 1963.

VIVA.co.id – Dampak erupsi Gunung Agung pada 1963 menarik perhatian para peneliti. Gunung tertinggi di Bali yang meletus terakhir kali pada 17 Maret 1963 itu dampaknya sampai ke belahan dunia lain. 

Warga di Amerika Serikat tidak bisa melihat penampakan Gerhana Bulan pada Desember 1963, sembilan bulan usai letusan. Hal ini lantaran letusan Gunung Agung membawa material partikel vulkanik ke atmosfer dan bertahan dalam waktu lama. Dalam waktu lama partikel tersebut makin bergerak ke atmosfer lapisan atas dan membuat penampakan gerhana menjadi berbeda. 

Selain berdampak menghilangnya Gerhana Bulan, dampak letusan itu juga menarik studi dampak pendinginan bumi dari James Hansen, peneliti studi ruang angkasa di Goddard Institute Badan Amerika Serikat. Hansen merupakan salah satu saksi yang tak bisa melihat penampakan Gerhana Bulan pada Desember 1963. Pada 1967 dia sudah menjadi karyawan NASA.

Dikutip dari situs NASA, Senin 25 September 2017, pada periode 1960-an, terjadi “pertarungan” wacana. Beberapa ilmuwan menduga bumi sedang memasuki pendinginan global, sedangkan sebagian ilmuwan lain meyakini bumi mengalami pemanasan global.

Untuk wacana pendinginan bumi, berdasar dari teori perubahan suhu bumi yang dilontarkan matematikawan Serbia, Milutin Milankovitch, yang menjelaskan bumi seharusnya memasuki siklus zaman es, pendinginan.

Ide Milankovitch kala itu, mendapat dukungan dari data yang dimiliki Murray Mitchell, peneliti dari Badan Klimatologi dan Cuaca AS (NOAA), yang punya kumpulan data suhu terlengkap. Tapi data tersebut hanya mencakup belahan bumi utara. 

Data Mitchell saat itu menunjukkan, suhu permukaan bumi mengalami periode pendinginan sekitar 0,3 derajat celsius pada periode 1940 sampai 1970. 

Sedangkan perkiraan pemanasan global dilontarkan ahli iklim Uni Soviet, Mikhail Budyko, dengan mengamati tren pendinginan bumi selama tiga periode. Tapi selain itu, pada 1967, Budyko memperkirakan pendinginan akan beralih ke pemanasan, salah satu penyebabnya karena emisi karbon dioksida dari manusia. 

Ilmuwan lain yang seide dengan bumi bakal mengalami pemanasan global kala itu yaitu Veerabhadran Ramanathan. Dalam makalahnya 1975, Ramanathan menuturkan Klorofluorokarbon (CFC) adalah gas rumah kaca yang berbahaya, dan bisa menambah bumi makin panas. CFC merupakan senyawa organik yang hanya mengandung karbon, klorin, dan fluorin, yang diproduksi sebagai derivat volatil dari metana, etana, dan propana. 

Gagasan pendinginan dan pemanasan bumi itu menarik perhatian Hansen. 

"Sudah diketahui lebih dari seabad peningkatan karbon dioksida bisa berdampak pada suhu global," kata Hansen.