Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 3 Oktober 2017 | 11:48 WIB
  • Bisnis Ritel Sepi, Ini Kata Bos Bukalapak

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis,
    • Mitra Angelia
Bisnis Ritel Sepi, Ini Kata Bos Bukalapak
Photo :
  • Bimo Fundrika / VIVA.co.id
Pusat perbelanjaan

VIVA.co.id – Perlahan, bisnis ritel konvensional seakan mulai seret. Tak dipungkiri, konsumsi barang  masyarakat pun memang mulai beralih dari offline ke online, atau daring.

Chief Executive Officer Bukapalak, Achmad Zaky mengakui hal tersebut. Menurutnya, saat ini, memang tengah terjadi perubahan perubahan perilaku belanja masyarakat, yang awalnya konvensional seperti belanja di pasar dan sebagainya, kini berpindah menjadi berbelanja secara daring.

"Saya rasa, bisnis online tengah diminati oleh masyarakat. Menurut saya, perusahaan ritel dapat bermitra dengan Bukalapak, untuk membantu mempromosikan produk mereka secara online," ujar Zaky kepada VIVA.co.id melalui pesan singkat, Selasa 3 Oktober 2017.

Zaky menegaskan, dengan bergabungnya ritel konvensional dengan platform daring, artinya bisnis offline bukanlah menjadi pesaing mereka. Maraknya kemunculan medium marketplace, seperti Bukalapak, kata dia, justru membuka kesempatan untuk berkontribusi terhadap kemajuan Indonesia. 

Medium marketplace akan menyediakan infrastruktur digital, sekaligus mengurangi kesenjangan digital yang sejalan dengan inisiatif pemerintah untuk mengembangkan industri digital di Indonesia.

Sebab, prospek bisnis lewat e-commerce akan terus berkembang. Zaky mengatakan, menurut Business Insider, Indonesia tercatat sebagai salah satu negara yang terus mengembangkan bisnis e-commerce. 

Pada 2020, diperkirakan bisnis e-commerce di Indonesia dapat mencapai US$130 juta, terbesar ketiga dunia setelah China dan India. 

"Saat ini, pertumbuhan e-commerce baik di Indonesia maupun di dunia sudah berjalan ke arah yang positif," ujar Zaky.

Dia menuturkan, menurut data Bank Indonesia, nilai transaksi e-commerce di Indonesia pada 2014 mencapai US$2,6 miliar, atau setara dengan Rp34,9 triliun dan diperkirakan angka tersebut akan naik pada tahun-tahun selanjutnya. (asp)