Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Minggu, 8 Oktober 2017 | 21:24 WIB
  • Kronologi Terbongkarnya Kebohongan Dwi Hartanto

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis
Kronologi Terbongkarnya Kebohongan Dwi Hartanto
Photo :
  • Laman KBRI Den Haag
Surat pencabutan penghargaan kepada Dwi Hartanto oleh KBRI Den Haag.

VIVA.co.id – Mahasiswa doktoral TU Delft, Belanda, Dwi Hartanto, sedang menjadi sorotan masyarakat Indonesia. Tak disangka, awalnya publik kagum dan terkesima dengan segudang prestasi yang ditorehkan Dwi, tapi berbalik kaget dengan pengakuannya. Dwi mengatakan deretan prestasi yang dia sampaikan adalah bohong belaka. 

Dwi sempat mencuri perhatian dan membuat ilmuwan Indonesia lain terkesima dengan deretan prestasinya, saat usianya masih muda, 30 tahunan. Salah satu yang kagum yakni Deden Rukmana, seorang professor dan koordinator program Urban Studies and Planning Savannah State University, Amerika Serikat. 

Dalam postingan di laman Facebooknya, Deden mengungkapkan bagaimana kronologi terbongkarnya kebohongan Dwi. 

Deden menuliskan dia bertemu dengan Dwi dalam kegiatan Visiting World Class Professor yang diadakan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi pada 17-24 Desember 2016. Dalam forum itu, Deden dan Dwi merupakan bagian lebih dari 40 ilmuwan diaspora Indonesia yang mengajar dan meneliti di berbagai belahan dunia. 

Dalam pertemuan awal dengan Dwi, Deden mengakui begitu kagum. Sebab dengan usia Dwi yang masih muda, 34 tahun, tapi dia sudah menyandang jabatan Assistant Professor di Technische Universiteit Delft atau TU Delft, Belanda dalam bidang Aerospace. 

Deden semakin bangga dengan Dwi kala dia membaca berita di internet, BJ Habibie memanggil khusus Dwi di salah satu restoran di Den Haag, Belanda pada awal Desember 2016. 

"Saya semakin bangga untuk memiliki teman ilmuwan yang akan meneruskan sepak terjang Bapak BJ. Habibie dalam dunia teknologi dirgantara di Indonesia," ujarnya dalam postingan di Facebook. 

Kebanggaan atas prestasi mentereng Dwi berlanjut sampai kurang lebih setahun berikutnya. Kebanggaan Deden atas Dwi mulai terinterupsi dengan pembahasan pengurus Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) di grup WhatsApp tentang sepak terjang Dwi. 

Deden mengatakan, pada 10 September 2017, salah satu anggota grup pengurus I-4 secara terpisah mengirimkan dua dokumen lengkap investigasi beragam klaim yang disampaikan Dwi selama ini. Kedua dokumen itu disiapkan beberapa teman Indonesia di TU Delft yang mengenal Dwi secara pribadi.

Dokumen pertama setebal 33 halaman berisi rangkaian data digital dan interaksi Dwi di internet. Sedangkan dokumen kedua 8 halaman berisi investigasi klaim Dwi, mulai dari latar belakang S1, usia, roket militer, PhD dalam bidang Aerospace, Professorship dalamn bidang Aerospace, Technical Director di bidang rocket technology and aerospace engineering, wawancara dengan media international, dan kompetisi riset.

"Saya menilai mereka (teman Indonesia Dwi di TU Delft) sebagai pihak yang mengetahui kebohongan publik yang dilakukan oleh Dwi Hartanto dan menginginkan agar kebohongan ini dihentikan," kata dia. 

Deden mengatakan, teman Dwi di kampus itu sebenarnya sudah menemui Dwi dan memintanya untuk berhenti berbohong ke publik. Tapi ajakan persuasif itu malah tak ditanggapi serius oleh Dwi. 

Tak berhasil membujuk Dwi, kolega sekampus itu kemudian mencari cara lain untuk menghentikan kebohongan Dwi. 

"Salah satunya adalah menghubungi saya dan mereka pun memberikan izin kepada saya untuk menggunakan kedua dokumen dalam menyiapkan tulisan ini," tulis Deden.

Cek Silang

Deden kemudian mengecek dokumen yang dia terima. Misalnya dia membaca transkrip wawancara Dwi dalam program Mata Najwa pada Oktober 2016. Deden menyempatkan juga melihat video wawancara itu. Pada awal wawancara, kata Deden, dia sudah melihat ada tanda kebohongan pada Dwi yang mengaku seorang postdoctoral dan assistant professor serta berkecimpung dalam bidang teknologi roket.

"Seorang postdoctoral adalah bukan seorang assistant professor. Kedua posisi ini adalah dua posisi yang berbeda dan tidak bisa seorang menduduki kedua posisi ini bersamaan di satu institusi yang sama," ujar Deden. 

Profesor Deden menyempatkan untuk cek silang klaim Dwi yang dipanggil khusus oleh BJ Habibie. Dia kemudian mengakses koleganya yang dekat dengan keluarga mantan Presiden BJ Habibie. Dari pengecekan itu, didapat pengakuan yang sebaliknya dari klaim Dwi selama ini. 

Ternyata, pertemuan itu bukan permintaan BJ Habibie, malah belakangan Dwi mengaku dia yang meminta dipertemukan dengan BJ Habibie.

"Selain itu, pertemuan informal tersebut dihadiri oleh banyak orang dan tidak ada pembicaraan khusus mengenai aerospace engineering antara Bapak B.J. Habibie dengan Dwi Hartanto seperti banyak diberitakan oleh media," kata Deden.

Deden mengatakan, sama seperti dengan kolega sekampus Dwi, dia tak bisa diam dengan pembohongan publik Dwi. Sebab bila dia mendiamkan berarti ikut membenarkan kebohongan tersebut. 

"Kebohongan yang dilakukan oleh Dwi Hartanto juga merusak nama baik ilmuwan secara umum. Ilmuwan adalah suatu profesi yang memerlukan integritas dan kode etik yang tinggi. Bidang keilmuan tidak akan berkembang bilamana pelakunya tidak memiliki integritas untuk menjaga kejujuran dan objektifitas bidang keilmuan," ujar Deden. 

Kebohongan Dwi makin terkuak luas setelah Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag pekan lalu mencabut penghargaan yang diberikan kepada dia pada Perayaan HUT RI ke-72. Pencabutan itu ditetapkan melalui Surat Keputusan NOMOR SK/023/KEPPRI/VIII/2017 yang sempat dikeluarkan pada 15 September 2017. 

Dalam pertimbangannya, KBRI Den Haag menuliskan, pencabutan penghargaan dilakukan setelah melihat dinamika dan perkembangan di luar dugaan serta itikad baik. 

"Bahwa untuk itu dipandang perlu mencabut Keputusan Kepala Perwakilan Republik Indonesia tentang Penghargaan kepada Dr. Ir. Dwi Hartanto," tulis surat tersebut, yang dimuat di laman resmi KBRI Den Haag. (ren)