Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 9 Oktober 2017 | 18:10 WIB
  • Lapan Coret Dwi Hartanto Jauh Sebelum Minta Maaf

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis,
    • Afra Augesti
Lapan Coret Dwi Hartanto Jauh Sebelum Minta Maaf
Photo :
  • Facebook/LAPAN RI
Kantor Lapan

VIVA.co.id – Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional atau Lapan, Thomas Djamaluddin, membenarkan institusinya telah mencoret nama Dwi Hartanto sebagai pembicara dalam sebuah seminar internasional.

Thomas mengatakan, yang bersangkutan telah diajukan sebagai keynote speaker dalam seminar yang dilaksanakan pada 27 September 2017. Namun, lantaran undangan yang telah dilayangkan kepada Dwi Hartanto tak kunjung mendapat balasan, Lapan akhirnya memutuskan untuk membatalkannya.

"Ya (dibatalkan), setelah tidak ada respons terhadap surat undangan," kata Thomas kepada VIVA.co.id saat dihubungi melalui pesan singkat, Senin 9 Oktober 2017.

Ia menuturkan, Lapan juga telah mendapatkan sejumlah informasi mengenai kebohongan mahasiswa lulusan AKPRIND Yogyakarta itu. Jauh sebelum Dwi meminta maaf kepada publik, Lapan pun telah mendeteksi sejumlah kejanggalan tersebut.

"Lapan mendapat info kebohongan DH (Dwi Hartanto) sekitar Agustus atau September lalu. Pelaksanaan seminar internasional 27 September," ujarnya.

Dwi sedang menjadi buah bibir warganet. Mahasiswa doktoral di Technische Universiteit Delft Belanda ini mengaku sukses dalam membuat Satellite Launch Vehicle/SLV (Wahana Peluncur Satelit).

Ia juga membanggakan diri sebagai pemenang dalam Kompetisi Antar-Space Agency Luar Angkasa. Tak hanya itu, ia pun mengklaim telah mengantongi hak paten di bidang teknologi penerbangan antariksa. Namun semua itu ternyata hanyalah isapan jempol semata.

Kebohongan Dwi terbongkar setelah alumni TU Delft di Indonesia menyelidiki latar belakangnya. Penyelidikan tentang kebohongan Dwi, bermula saat dia diundang sebagai pembicara di salah satu konferensi tentang kedirgantaraan di Indonesia.

Kala itu, alumni TU Delft di Indonesia, yang juga merupakan dosen di sebuah perguruan tinggi Tanah Air, menyelidiki latar belakang Dwi, namun tak menemukannya. Penyelidikan berlanjut ke Badan Antariksa Eropa atau European Space Agency (ESA), karena Dwi mengaku bekerja di sana. Namun ternyata setelah dicek silang, tidak ada nama Dwi Hartanto di ESA.

Atas dasar laporan itu, Dwi kemudian diinterogasi oleh Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Delft, PPI Belanda, dan KBRI Den Haag. Ia lantas mengakui kesalahannya dan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada publik.

Minta maaf

Dalam klarifikasi tertulis, Dwi memohon maaf sebesar-besarnya kepada semua pihak yang dirugikan atas informasi bohong yang dia sebarkan. 

"Saya mengakui dengan jujur kesalahan/kekhilafan dan ketidakdewasaan saya, yang
berakibat pada terjadinya framing, distorsi informasi atau manipulasi fakta yang sesungguhnya secara luas yang melebih-lebihkan kompetensi dan prestasi saya. Saya sangat berharap bisa berkenan untuk dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya," katanya. 

Dwi berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya kembali, akan terus berkarya dan berkiprah sesuai kompetensinya dan akan menolak semua pemberitaan dan undangan resmi di luar kompetensinya.  

“Perbuatan tidak terpuji/kekhilafan saya seperti yang tertulis di dokumen ini adalah murni perbuatan saya secara individu yang tidak menggambarkan perilaku pelajar maupun alumni Indonesia di TU Delft secara umum,” tulisnya.