Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 26 Oktober 2017 | 11:36 WIB
  • Mahasiswi IPB Uji Krim Minyak Hiu dan Buah Bakau, Hasilnya?

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis
Mahasiswi IPB Uji Krim Minyak Hiu dan Buah Bakau, Hasilnya?
Photo :
  • Dokumen IPB
Mahasiswi Institut Pertanian Bogor, Aufa Khoirunnisa (tengah)

VIVA – Permintaan kosmetik di Indonesia cenderung meningkat seiring bertambahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan dan perawatan kulit. Apalagi di Indonesia bagian timur, berlimpah minyak hati hiu botol yang kaya senyawa perawatan kulit, Squalene.    

Squalene merupakan senyawa hidrokarbon yang biasa diaplikasikan dalam pembuatan kosmetik dan biosintesa kolesterol. Squalene kini menjadi salah satu bahan mahal untuk pembuatan kosmetik dan pelembap.

Manfaat squalene bagi kulit di antaranya sebagai emmolient (meningkatkan daya gosok). Squalene dapat dengan cepat dan efisien penyerapannya ke dalam kulit serta dapat memulihkan kesehatan, kelembutan, dan fleksibilitas kulit.  

Namun masalahnya, minyak hati hiu botol kurang dimanfaatkan dalam kosmetik. Selain itu, bahan minyak hati hiu botol masih terdapat asam lemak yang mudah teroksidasi dan bisa berpengaruh terhadap kualitas ketahanan krim wajah yang dihasilkan.

Dengan kondisi itu, mahasiswi Departemen Teknologi Hasil Perikanan Institut Pertanian Bogor, Aufa Khoirunnisa, tergerak meneliti formula minyak hati hiu botol yang membuat krim kosmetik lebih berkualitas. Aufa berpikir minyak tersebut perlu dipadu dengan antioksidan alami, agar kualitasnya kosmetik makin bagus.

"Saya kan mahasiswa perikanan, jadi saya mencari komoditas perikanan sebagai antioksidan. Yang sudah ada kan kunyit, tapi karena saya orang perikanan, maka saya cari informasi komoditas belum banyak digunakan, salah satunya buah bakau (Rhizophora mucrotana)," ujarnya kepada VIVA.co.id, Kamis 26 Oktober 2017. 

Aufa menjelaskan, buah bakau sebagai antioksidan dipilih dengan pertimbangan, sebagai bahan alami, hasil perairan, dan punya aktivitas antioksidan yang tinggi melebihi vitamin C setelah dilakukan pengujian laboratorium.

Secara tradisional, Aufa menjelaskan, masyarakat pesisir sudah memanfaatkan buah bakau sebagai obat. Buah bakau ditumbuk dan kemudian diletakkan pada luka di tubuh. Pada buah bakau setelah diteliti memang mengandung kandungan senyawa obat untuk pencegahan oksidasi. 

Mahasiswi berjilbab ini kemudian mengekstrak buah bakau dan dicampurkan ke krim kosmetik berbahan minyak hati hiu botol. Dia ingin menguji seberapa fungsi ekstrak buah bakau tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan, kosmetik krim wajah dengan bahan dasar minyak hati hiu botol dan diperkaya ekstrak buah bakau Rhizophora mucronata memiliki potensi sebagai salah satu kosmetik perawatan wajah. 

"Terutama yang berfungsi sebagai cell renewall atau pembaharuan sel," tuturnya. 

Dalam risetnya, Aufa menyimpan sampel kosmetik krim wajah dengan ekstrak buah bakau selama lima pekan di laboratorium, setelah diuji ternyata aman untuk digunakan. Aman karena krim wajah yang telah diuji tidak mengalami perubahan warna dan bau.

Kondisi itu menunjukkan krim dengan ekstrak buah bakau memiliki kestabilan emulsi yang sangat baik, total mikroba, nilai pH, dan viskositas. Sampel dengan demikian memenuhi persyaratan yang diujikan dalam Standar Nasional Indonesia (SNI).

Krim dengan ekstrak buah bakau stabil, tak mengeluarkan air dan terpisah dengan bahan krim. Aufa menjelaskan, sedangkan krim tanpa ekstrak buah bakau menunjukkan perubahan warna dan bau. 

“Formula terbaik untuk pembuatan kosmetik krim wajah dan yang paling disukai adalah dengan penambahan minyak hati hiu botol sebanyak 7,5 persen dan ekstrak buah bakau R. mucronata 0,03 persen. Kestabilan emulsi sediaan kosmetik krim wajah yang dihasilkan setelah penyimpanan pun sangat stabil, sehingga aman secara fisik, kimia maupun mikrobiologi,” ujarnya.