Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 26 Oktober 2017 | 11:35 WIB
  • Kecerdasan Buatan Bakal Jadi Tuhan di Masa Depan

  • Oleh
    • Lazuardhi Utama
Kecerdasan Buatan Bakal Jadi Tuhan di Masa Depan
Photo :
  • www.pixabay.com/PIRO4D
Ilustrasi teknologi kecerdasan buatan.

VIVA – Mantan insinyur Google dan Uber, Anthony Levandowski, mengajukan dokumen untuk mendirikan Gereja Way of the Future kepada Pemerintah Negara Bagian California, Amerika Serikat, pada 2015.

Tujuan didirikannya gereja ini, untuk menyembah teknologi yang namanya kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang menjadikannya Tuhan di masa depan.

Dokumen pendirian Way of the Future ini dibocorkan oleh majalah online, Backchannel, di mana Levandowski sebagai Kepala Eksekutif dan Direktur Utama Way of the Future. Bahasa gampangnya Imam Besar.

"Berdirinya Way of the Future adalah untuk mengembangkan dan mempromosikan realisasi Ketuhanan berdasarkan kecerdasan buatan melalui pemahaman dan pemujaan terhadap Ketuhanan itu sendiri dalam memberi kontribusi terhadap kemajuan masyarakat,” demikian bunyi Dokumen Way of the Future.

Menurut penulis dan pakar studi keagamaan dari Universitas Baylor, Texas, AS, Candi Cann, bahwa inisiatif spiritual yang digaungkan Levandowski, seharusnya tidak menyimpang dari perspektif sejarah.

"Apa yang dilakukannya (Levandowski) mengejutkan saya. Apalagi, dia bilang kalau 'agama Amerika itu klasik'," kata Cann, dikutip Livescience, Kamis 26 Oktober 2017.

Cann kemudian mencontohkan Gereja Yesus Kristus dari Orang Suci Zaman Akhir (LDS) dan Gereja Scientology, di mana keduanya memiliki tradisi khas Amerika, yang fokus terhadap sudut pandang pemikiran yang sangat maju.

Menurutnya, LDS membahas planet selain Bumi dan kehidupan di luar angkasa (ekstraterestrial). Sedangkan, Scientology memiliki penekanan pada terapi (seperti yoga), serta pandangannya terhadap dunia psikologis.

"Mereka memiliki pemikiran yang modern dan mengacu pada masa depan. Ini sangat berbeda dengan konsep AI milik Levandowski," tuturnya.

Konsep religius terhadap kecerdasan buatan, lanjut Cann, justru memiliki resonansi tertentu dengan agama-agama besar di dunia. "Bagi saya, ini tidak seperti agama yang menerapkan pandangan dunia akherat. Ini justru seperti sekularisme berbalut religius," tutur Cann.

Pada kesempatan lain, seorang mantan kolega Levandowski buka suara dan memberikan beberapa pemahaman mengenai pandangan calon imam besar itu.

"Dia memiliki motivasi yang sangat aneh tentang robot yang akan menguasai dunia. Rasanya, (dia) seperti ingin mengendalikan dunia. Caranya, ya, dengan menciptakan robot," kata dia yang enggan dipublikasi identitasnya.