Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 31 Oktober 2017 | 11:51 WIB
  • Jumlah Karbondioksida di Atmosfer Tertinggi

  • Oleh
    • Lazuardhi Utama
Jumlah Karbondioksida di Atmosfer Tertinggi
Photo :
  • http://cdn.phys.org/newman/gfx/news/hires/2011/theearthisse.jpg
Atmosfer.

VIVA – Jumlah karbondioksida (CO2) di atmosfer mencapai tingkat tertinggi dalam 800 ribu tahun pada 2016.

Menurut Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), tingkat rata-rata konsentrasi CO2 global melonjak dari 400 bagian per juta pada 2015 menjadi 403,3 bagian per juta di tahun lalu.

Hal ini disebabkan oleh kombinasi aktivitas manusia dan Badai El Nino. Seperti diketahui, munculnya El Nino dan La Nina mengacu pada fase hangat dan sejuk dari pola iklim berulang di Pasifik tropis.

Sekretaris Jenderal WMO, Petteri Taalas mengatakan, pengukuran langsung dari 800 ribu tahun terakhir telah dilakukan dengan menggunakan inti es Benua Antartika dan 'instrumen modern'.

Kenaikan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer dimulai pada era industri yang dimulai pada 1750. Hal ini berawal dari berbagai faktor termasuk pertumbuhan populasi dan industrialisasi, serta penggunaan sumber bahan bakar fosil.

"Tanpa pengurangan CO2 yang cepat dan emisi gas rumah kaca lainnya, kita akan menghadapi kenaikan suhu yang berbahaya pada akhir abad ini, jauh di atas target yang ditetapkan oleh kesepakatan perubahan iklim di Paris," kata Taalas, seperti dikutip CNBC, Selasa, 31 Oktober 2017.

Ia mengatakan bahwa CO2 tetap berada di atmosfer selama ratusan tahun dan di lautan dalam kurun waktu lebih lama.

"Ini artinya kita menghadapi iklim yang jauh lebih panas dan lebih ekstrem di masa depan. Tidak ada tongkat sihir untuk mengeluarkan CO2 dari atmosfer," ungkapnya.

Berdasarkan kesepakatan Perjanjian Paris 2015 disebutkan kalau para pemimpin dunia berkomitmen untuk memastikan pemanasan global tetap berada di bawah dua derajat Celcius di atas tingkat pra-industri.

Oleh karena itu, upaya untuk mengejar ke arah sana maka harus dilakukan pembatasan kenaikan suhu menjadi 1,5 derajat Celsius.

Namun, pada awal Juni 2017, Presiden Amerika Serikat Donald John Trump menarik diri dari Perjanjian Paris dan memulai pembicaraan untuk masuk kembali atau menegosiasikan sebuah kesepakatan baru.