Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 31 Oktober 2017 | 14:41 WIB
  • Jutaan Data Pribadi Warga Malaysia di Ponsel Diretas

  • Oleh
    • Lazuardhi Utama
Jutaan Data Pribadi Warga Malaysia di Ponsel Diretas
Photo :
Ilustrasi hacker.

VIVA – Malaysia mengalami kebobolan nomor pelanggan data dalam jumlah besar. Sebab, lebih dari 46 juta nomor telepon seluler pelanggan telekomunikasi telah dijual di situs gelap.

Seorang peretas (hacker) yang tidak dikenal dilaporkan telah memasang jutaan catatan sensitif yang dicuri dari operator telekomunikasi negara tersebut, antara lain DiGi, Celcom, Maxis, Tunetalk, Redtone dan Altel.

Tak tanggung-tanggung, data yang bocor mencakup nama pengguna, nomor telepon prabayar dan pascabayar, alamat, data pelanggan dan data kartu SIM.

Situs gelap tersebut juga dilaporkan memiliki database dengan lebih dari 80 ribu catatan yang diambil dari tiga layanan kesehatan negeri Jiran, yakni Malaysian Medical Council (MMC), Malaysian Medical Association (MMA) dan Malaysian Dental Association (MDA).

Mengutip situs IBTimes, Selasa, 31 Oktober 2017, laporan pertama atas kasus besar ini diperkirakan terjadi pada 2014.

Negara yang memiliki penduduk 32 juta jiwa ini menunjukkan bahwa data yang bocor mungkin milik orang-orang yang mempunyai beberapa nomor ponsel.

Selain itu, data yang dicuri ini juga bisa lebih banyak, karena terdiri dari nomor ponsel aktif dan tidak aktif milik warga lokal, serta nomor ponsel yang dibeli oleh warga negara asing yang mengunjungi Malaysia.

Pendiri Lowyat.net, Vijandren Ramadass mengatakan, pihaknya telah menyerahkan semua sampel data curian yang telah diterima dari peretas tersebut kepada Malaysian Communications and Multimedia Commission (MCMC).

Ia mengungkapkan bahwa data mungkin telah beredar di forum bawah tanah (situs gelap) dan mungkin telah berhasil diperdagangkan.

"Masih belum jelas bagaimana begitu banyak data dari beberapa sumber yang muncul sehingga bisa disusupi dan kemudian dijual di situs gelap. Ini juga masih belum jelas berapa jumlah yang ditagih oleh si hacker dengan imbalan penyerahan data," kata Ramadass.