Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 4 November 2017 | 00:03 WIB
  • Dunia Geger, Ada Orangutan Jenis Baru Ditemukan di Sumatera

  • Oleh
    • Bayu Adi Wicaksono
Dunia Geger, Ada Orangutan Jenis Baru Ditemukan di Sumatera
Photo :
  • Kemen LHK
Pongo Tapanuliensis atau Orangutan Tapanuli

VIVA – Tim peneliti gabungan menemukan spesies orangutan baru dunia di hutan Indonesia. Populasi spesies ini ditemukan di habitat terisolir di Ekosistem Batang Toru, Kabupaten Tapanuli, Sumatera Utara. Spesies itu bernama Orangutan Tapanuli atau dalam bahasa ilmiahnya Pongo Tapanuliensis.

Orangutan Tapanuli ditemukan gabungan peneliti dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Nasional (UNAS), dengan Yayasan Ekosistem Lestari Program Konservasi Orangutan Sumatra (YEL-SOCP) dan berbagai universitas lain di mancanegara, sejumlah tim peneliti yang bergerak di bidang genomik-genetika konservasi, morfologi, ekologi, serta perilaku primata

Dalam siaran pers resmi dari Kementerian Lingkungan Hidup disebutkan, Jumat, 3 November 2017, hasil penelitian ini dilaporkan di dalam salah satu jurnal internasional terkemuka, Current Biology, di mana kategori jenis orangutan baru dengan nama ilmiah Pongo Tapanuliensis atau Orangutan Tapanuli dinobatkan sebagai spesies orangutan ketiga, setelah Pongo Pygmaeus (Orangutan Kalimantan) dan Pongo Abelii (Orangutan Sumatera).

Bukti pertama yang mengukuhkan Orangutan Tapanuli sebagai kategori spesies baru terlihat dengan terpaparnya perbedaan genetik yang sangat besar di antara ketiga jenis orangutan (melebihi perbedaan genetik antara gorila dataran tinggi dan rendah maupun antara simpanse dan bonobo di Afrika). 

Orangutan Tapanuli  diduga merupakan keturunan langsung dari nenek moyang orangutan yang bermigrasi dari Dataran Asia pada masa Pleistosen (+ 3.4 juta tahun silam).

Perbedaan morfologi lain terlihat dari ukuran tengkorak dan tulang rahang lebih kecil dibandingkan dengan kedua spesies lainnya, serta rambut di seluruh tubuh Orangutan Tapanuli  yang lebih tebal dan keriting. 

Pengukuran tengkorak dan tulang rahang ini dilakukan peneliti Anton Nurcahyo sebagai bagian dari studi doktoralnya yang sedang ia selesaikan di Australian National University (ANU) bersama dengan pakar taksonomi primata Prof. Dr. Colin Groves. 

"Kami sangat terkejut sekaligus senang ketika menemukan ukuran tengkorak yang sangat berbeda secara karakteristik dibandingkan dengan spesies lainnya," kata Anton.

Berdasarkan studi perilaku dan ekologi, Orangutan Tapanuli  juga diketahui memiliki jenis panggilan jarak jauh/ long call (cara jantan menyebarkan informasi) yang berbeda serta jenis pakan unik dari jenis buah-buahan yang hanya ditemukan di Ekosistem Batang Toru.

 Peninjauan terakhir terhadap jumlah populasi Orangutan Tapanuli dilaporkan pada tahun 2016, di mana hanya tersisa tidak lebih dari 800 individu hidup yang tersebar di tiga populasi terfragmentasi di Ekosistem Batang Toru. 

"Terdapat tekanan antropogenik yang kuat terhadap keberadaan populasi Orangutan Tapanuli karena konversi hutan dan perkembangan lainnya," ujar Dr. Puji Rianti, salah satu peneliti dari Institut Pertanian Bogor yang mempelajari genetika konservasi dari spesies orangutan di Sumatera.

Dr. Rianti menuturkan, tindakan mendesak diperlukan untuk meninjau ulang usulan-usulan pengembangan daerah di wilayah ini sehingga ekosistem alami tetap terjaga demi keberlangsungan hidup orangutan tapanuli di masa depan.

Saat ini kawasan Ekosistem Batang Toru merupakan habitat terakhir bagi Orangutan Tapanuli  dengan jumlah individu terpadat.

Oleh karena itu, sebagian kawasan ekosistem Batang Toru telah ditetapkan  Menteri LHK melalui Nomor : SK.637/MenLHK-Setjen/2015, tanggal 14 Desember 2015, menjadi KPH Lindung atau KPHL XXIV, KPHL XXV, dan KPHL XXVII, dipayungi KPHL XI pada tahun 2015. Pengelolaan KPHL-KPHL tersebut perlu memprioritaskan upaya-upaya perlindungan bagi spesies orangutan jenis baru.

"Pemerintah Indonesia sangat gembira dan bangga terhadap penemuan ini," ujar Menteri LHK,Siti Nurbaya Bakar

Menteri juga berpendapat bahwa penemuan ini semakin menunjukkan betapa kayanya wilayah Indonesia dengan keanekaragaman hayati yang masih relatif sedikit diketahui. 

"Kami sangat bertekad untuk menjaga keberlangsungan hidup spesies kera besar ini, bekerja sama dengan pemerintah provinsi, kabupaten, para peneliti, LSM, sivitas akademika, aktivis lingkungan, masyarakat dan para pihak lainnya. Kami menyadari bahwa Indonesia semakin memainkan peranan kunci dalam konservasi kehidupan global seluruh kera besar di dunia," ujarnya.