Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Minggu, 5 November 2017 | 14:09 WIB
  • Lubang Ozon Menyempit, Apa Efeknya?

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis
Lubang Ozon Menyempit, Apa Efeknya?
Photo :
  • www.pixabay.com/flflflflfl
Ilustrasi Bumi dan Bulan.

VIVA – Peneliti Badan Antariksa Amerika Serikat dan National Oceanic and Atmospheric Administration atau NOAA mengungkapkan lubang ozon di Antartika pada tahun ini merupakan yang terkecil sejak 1988. 

Peneliti lembaga tersebut menegaskan, lubang ozon terkecil tersebut bukan menandakan kabar baik penyembuhan Bumi. Lubang ozon terkecil pada tahun ini terjadi lantaran adanya variabilitas alam. 

Dikutip dari Tech Times, Minggu 5 November 2017, meski lubang ozon terkecil pada tahun ini, ukurannya masih tergolong 'raksasa', yakni lebih dari 2,5 kali ukuran Australia atau hampir 20 juta kilometer persegi. 

NOAA mengatakan, pusaran Antartika yang tidak stabil dan lebih hangat menurunkan generasi awal stratosfer di bagian lapisan stratosfer bawah. Kondisi itu mengakibatkan lebih sedikit awan yang menghancurkan ozon. 

"Lubang ozon antartika telah berkembang sangat lemah pada tahun ini. Hal ini kami harapkan bisa melihat kondisi cuaca di stratosfer Antartika," jelas Kepala Ilmuwan Earth Sciences NASA, Paul A. Newman. 

Dalam pengukuran NASA dan NOAA, lubang ozon di antartika mencapai puncaknya pada 11 September lalu, dengan besaran lubang setara dengan 2,5 kali luas daratan Amerika Serikat. Namun setelah itu, ukuran lubang ozon menyusut pada September dan Oktober pada tahun ini. 

NASA dan NOAA mulai memantau perkembangan lubang ozon sejak pertama kali mendeteksi lubang ini pada 1985. Kedua lembaga itu mengamati lubang tersebut melalui pemantauan di stasiun darat, balon cuaca dan satelit. 

Lubang ozon di masa lalu pernah membuat heboh dunia. Pada 1970-an, peneliti kala itu mengatakan lapisan ozon di atas Antartika telah terkikis karena klorofluorokarbon. Publik dunia langsung khawatir, dan lubang ozon menjadi sensasi global dari pertengahan 1980-an sampai 1990-an. 

Publik takut dampak dari terkikisnya lapisan ozon tersebut, bisa membakar kulit akibat radiasi ultraviolet. 

Kekhawatiran berlebihan kala itu soal dampak kanker kulit dampak lubang ozon membuat lahirnya traktat Protokol Montreal. Traktat ini prinsipnya mencari cara bagaimana menangani dampak buruk lubang ozon. Belakangan negara yang menandatangani traktat itu mencapai 197 negara.  (one)