Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 6 November 2017 | 13:47 WIB
  • Teka-teki Ruang Kosong di Piramida Agung Mesir

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis
Teka-teki Ruang Kosong di Piramida Agung Mesir
Photo :
  • REUTERS/Asmaa Waguih
Piramida Giza di Kairo, Mesir.

VIVA – Tim ilmuwan internasional mengatakan mereka telah menemukan adanya ruang kosong raksasa di dalam Piramida Agung Mesir. Ruang kosong dengan ukuran panjang lebih dari 30 meter posisinya tepat di atas ruang Grand Gallery yang berukuran tinggi 8,6 meter, panjang 46,7 meter dan lebar 1 meter. Pengumuman ruang kosong pada Piramida Khufu' itu menimbulkan perdebatan sengit para ilmuwan termasuk komunitas peneliti di Mesir.

Penemuan ruang kosong di Piramida Agung ini mengulang temuan pada 2016. Tahun lalu, peneliti yang sama menemukan ruang kosong di piramida sisi utara Piramida Agung. 

Dikutip dari Live Science, Senin 6 November 2017, ada yang menyakini ruang kosong itu adalah sebuah ruang rahasia. Sedangkan yang lainnya tak mempercayainya. 

"Ruang kosong itu ada," tegas Presiden Heritage Innovation Preservation dan pemimpin misi ScanPyramids, Mehdi Tayaoubi.

Penemuan ruang kosong raksasa itu berkat penggunaan sinar kosmik. Tim yang terlibat dalam riset ini memang menggunakan teknologi dan pendekatan berbeda, memakai sinar kosmik. 

Tim ilmuwan menggunakan partikel muon, yang terbentuk saat sinar kosmik berinteraksi dengan atmosfer atas Bumi. Saat partikel itu jatuh ke Bumi terus menerus, mengalir pada benda dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya. Partikel ini bisa menembus batu, tapi saat melalui perjalanan pada benda padat, muon kehabisan energi dan akhirnya membusuk. 

Maka dengan mengukur jumlah muon pada sebuah benda dari arah tertentu, bisa mengungkap kerapatan sebuah benda. Teorinya adalah lebih banyak muon dalam sebuah benda berarti ada kekosongan dalam sebuah objek. 

Tim internasional itu menggunakan tiga metode dengan pengukuran muon. Pertama, dengan film emulsi nuklir yang dikembangkan peneliti Jepang. 

Metode kedua, memakai detektor partikel bernama hodoscope, yang dikembangkan peneliti Jepang juga. Kedua detektor ini diletakkan di dalam piramida. Metode ketiga, deteksi dengan muon berbasis gas argon yang diletakkan di dinding luar piramida. Deteksi ini dipasang tim ilmuwan Prancis. 

Metode ketiga menunjukkan hasil yang sama, ada ruang kosong yang selama ini tidak diketahui, selain Ruang Ratu, ruangan bawah tanah dan ruang yang di atasnya yakni, Ruangan Raja. Kedua ruang itu terkoneksi dengan beberapa koridor termasuk ruang Grand Gallery.  

Debat

Reaksi beragam terlontar atas temuan ruang kosong di Piramida Agung. Tim internasional mengatakan, mereka perlu teliti dan seksama untuk mengungkap ruang kosong ini. Sebab butuh penelitian mendalam supaya hasilnya lebih tepat. 

Sedangkan komunitas Egyptology menilai, ruang kosong itu sama halnya dengan ruang atau galeri lain di piramida. Malah pakar ilmu Mesir, Monica Hanna, merasa ruang kosong itu adalah kesalahan arsitektur. 

Sedangkan ahli Mesir dan mantan Menteri Kebudayaan Mesir, Zahi Hawass berpandangan, ruang kosong itu bukan ruang rahasia atau semacamnya. 

"Yang ditemukan mereka itu sangat jelas, bukan bermakna apapun. Ada banyak kekosongan lain di Piramida Agung karena alasan konstruksi. Tak ada hubungannya dengan ruang rahasia," ujar Hawass yang menjadi Direktur Ekskavasi di Giza, Saqqara, Bahariya Oasis.

Gagasan kekosongan adalah kesalahan arsitektur dibantah oleh tim peneliti yang terlibat. Tim berpendapat, kehampaan bukanlah hasil konstruksi yang tak merata. Sebab blok dengan ukuran dan orientasi yang berbeda pasti akan menyerap muon. 

"Dari sudut pandang teknik dan struktural analisis, tidak bisa terjadi penyimpangan," jelas koordinator proyek ScanPramids, Hany Helal.