Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 6 November 2017 | 14:58 WIB
  • Kenali, Jamur Tahi Sapi yang Memabukkan

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis,
    • Mitra Angelia
Kenali, Jamur Tahi Sapi yang Memabukkan
Photo :
  • VIVA.co.id/Mitra Angelia
Peneliti LIPI dan sampel jamur

VIVA – Belakangan beredar jamur olahan berupa keripik yang mengandung narkotika tingkat I. Temuan ini pun geger di kalangan masyarakat. Pelaku yang memproduksi sudah ditangkap.

Tersangka adalah Cyan (52 tahun), warga Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Bandung. Cyan mengemas keripik jamur mengandung narkotika itu dengan merek Snack Good. Jika dikonsumsi, Snack Good akan memberi efek halusinasi atau memabukkan.

Menurut informasi yang beredar, jenis jamur yang digunakan oleh Cyan adalah jamur Psilocybe, yang dikenal sebagai magic mushroom.

Jamur psilosibin dapat tumbuh secara alami pada kotoran hewan, lumut, ranting atau kayu yang busuk. Mengingat jamur ini tumbuh pada kotoran, maka dikenal dengan jamur ‘tahi sapi’.

Peneliti Budidaya Jamur Pangan, Pusat Penelitian Biologi LIPI, Iwan Saskiawan menegaskan, LIPI tidak pernah membina para petani untuk membudidayakan jamur jenis Psilocybe.

Selama ini, kata Iwan, LIPI memang membina masyarakat petani, dan mahasiswa untuk budidaya jamur. Petani jamur juga membentuk Usaha Kecil Menengah (UKM) untuk membuat makanan olahan jamur, termasuk salah satunya keripik jamur.

"Jamur yang kita budidayakan, tidak mengandung bahan-bahan yang selama ini dituliskan oleh media," ujar Iwan ketika konferensi pers di Gedung LIPI, Jakarta, Senin 6 November 2017.

Iwan menjelaskan, jenis jamur pangan yang dibudidayakan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No: 511/Kpts/PD.310/9/2006 tanggal 12 September 2006, tentang Jenis Komoditi Tanaman Binaan Direktorat Jenderal Hortikultura.

Jenis jamur yang termasuk dalam Surat Keputusan tersebut adalah jamur merang (Volvariella), Jamur Tiram (Pleurotus), jamur kuping (Auricularia), jamur shitake (Lentinus), jamur kancing/champignon (Agaricus), dan jamur lingchi (Ganoderma).

Peneliti Herbarium Bogoriense, Pusat Penelitian Biologi LIPI, Atik Retnowati menjelaskan, jamur Psilocybe sangat langka di Indonesia.

Jamur Psilocybe memang hidupnya di hutan, dekat dengan masyarakat. Media tumbuhnya pada kotoran hewan, lumut, ranting, daun, kayu yang busuk. Di Indonesia, ada tujuh jenis jamur Psilocybe. Sifatnya yang memabukkan karena adanya senyawa psilocybin dan psilocin.

"Tapi, seperti yang dibicarakan, bahwa jenis P.cubensis dijadikan sebagai keripik jamur, sementara jenis itu tidak ada di Indonesia," ujar Atik.

P.cubensis, jenis yang paling memabukkan di antara jenis Psilocybe. Tapi keberadaannya ada di Meksiko, Kuba, Amerika Tengah. Untuk di Asia ada di antaranya di India, Thailand, Vietnam dan Kamboja.

Sementara dari tujuh jenis Psilocybe yang ada di Indonesia, baru dua jenis yang dideteksi memiliki senyawa psikoaktif, yaitu P.subaeruginacens dan P.aeruginromaculans.

"Ketersediaan psilocybe di alam terbatas. Untuk dibudidayakan tidak mudah, seperti jamur tiram dan kuping, penelitian menentukan medianya. Sangat tidak mudah dan butuh waktu lama," jelas Atik.

"Rancu juga kalau kandungan keripik ada yang Psilocybe," ujarnya.