Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 7 November 2017 | 16:26 WIB
  • Logam Asteroid Ampuh Bunuh Sel Kanker

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis
Logam Asteroid Ampuh Bunuh Sel Kanker
Photo :
  • www.pixabay.com/TBIT
Ilustrasi asteroid

VIVA – Peneliti China dan Inggris menemukan ada manfaat yang bisa diambil dari material sisa asteroid pembunuh dinosaurus di masa lalu. Peneliti menemukan logam dari sisa asteroid purba itu bisa dipakai untuk membunuh sel kanker. 

Tim peneliti Universitas Warwick, Inggris dan Universitas Sun Yat-Sen, China telah menunjukkan iridium, logam terpadat kedua di dunia, bisa dipakai untuk membunuh sel kanker. Caranya iridium diisi dengan oksigen mematikan, tapi tidak membahayakan bagi jaringan yang sehat.  

Iridium merupakan logam langka di Bumi. Bahan ini berlimpah di meteorit. Jumlah besar iridium telah hadir di Bumi bersamaan dengan hujan asteroid yang 'membombardir' pada 66 juta tahun lalu. Peristiwa itu memusnahkan kehidupan dinosaurus.

Dikutip dari Ecns, Selasa 7 November 2017, dalam eksperimennya tim peneliti itu menciptakan senyawa iridium dan bahan organik yang secara langsung menargetkan sel kanker, memindahkan energi sel kanker dan mengubah oksigen di dalam sel menjadi oksigen tunggal yang beracun. 

Oksigen itu difungsikan untuk membunuh sel tanpa membahayakan jaringan yang sehat di dalam tubuh. 

Dengan memanfaatkan teknologi canggih analisis sel protein individual, pertama kalinya peneliti bisa menemukan dengan tepat bagian mana sel kanker yang terdampak dengan cara ini. 

Analisis peneliti membuktikan, senyawa organik iridium bisa merusak protein metabolisme glukosa dan protein kejut panas. Kedua protein ini merupakan molekul kunci kanker. 

Peneliti mengatakan bahan iridium ini lebih efisien dan efektif dibanding penggunaan platinum logam pada skema kemoterapi. 

"Potensi logam lainnya, seperti iridium untuk menyerang sel kanker dengan cara baru yang bisa digunakan secara aman dengan efek samping minimum. Ini sekarang telah tereksplorasi," jelas pemimpin studi, Peter Sadler dari Universitas Warwick. (hd)