Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 20 November 2017 | 16:40 WIB
  • Cara BPPT Memproduksi Garam, Pakai Teknik 'Mencuci'

  • Oleh
    • Lazuardhi Utama,
    • Mitra Angelia
Cara BPPT Memproduksi Garam, Pakai Teknik 'Mencuci'
Photo :
  • ANTARA FOTO/Saiful Bahri
Produksi Garam di Indonesia Turun.

VIVA – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, atau BPPT memiliki metode lahan terintegrasi untuk mempercepat proses produksi, serta menghasilkan garam dengan kualitas bagus, setara garam impor.

Konsep lahan terintegrasi ini dengan membangun reservoir dan saluran irigasi. Jadi, produksi garam tidak tergantung lagi dengan musim.

Direktur Pusat Teknologi Farmasi dan Medika BPPT, Imam Paryanto menjelaskan, proses produksi garam diawali dengan lahan terintegrasi dapat memotong waktu panen.

Di mana, petani garam biasanya membutuhkan waktu sampai 14 hari untuk kualitas bagus.

"Kalau teknologi kita ini bisa empat hari," ujar Imam kepada VIVA, Senin 20 November 2017.

Ia melanjutkan, setelah didapat bahan baku garam baru pengolahan di pabrik garam.

Tetapi, kata Imam, BPPT punya metode yang efektif agar hasil produksi berkualitas tinggi.

"Hanya dengan pencucian. Maksudnya, dengan larutan garam tak jenuh, sehingga nanti biasanya pengotor-pengotor yang tak larut dan larut seperti magnesium dan kalsium itu bisa berkurang," jelasnya.

Ia melanjutkan, garam tinggal diolah sesuai kebutuhan, apakah bisa menjadi garam konsumsi, garam industri ataupun garam farmasi dan garam pro analisa.

Dengan proses melewati teknologi BPPT, Imam mengaku kualitas garam bisa sampai 90 persen. Sementara proses oleh petani biasa hanya 75 persen.

Seperti diketahui, BPPT dan PT Garam (Persero) bekerja sama untuk menekan laju impor garam.

Caranya dengan membuat lahan terintegrasi dan membangun pilot project pabrik garam untuk industri di Bipolo, Kupang, Nusa Tenggara Timur.