Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 21 November 2017 | 15:24 WIB
  • Bagaimana Nuklir Digunakan untuk Kesehatan?

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis,
    • Mitra Angelia
Bagaimana Nuklir Digunakan untuk Kesehatan?
Photo :
  • VIVA/Muhamad Solihin
Kepala Batan, Djarot Sulistio Wisnubroto.

VIVA – Selama ini nuklir cenderung dilihat dari sisi dampak bahayanya. Padahal nuklir banyak difungsikan untuk terapan medis, seperti mendiagnosis penyakit jantung, ginjal, kanker dan lainnya.

Badan Tenaga Nuklir Nasional atau Batan, membuat radioisotop untuk kebutuhan medis. Produk dari radioisotop ini dinamakan dengan radiofarmaka.

Kepala Bidang Teknologi Radiofarmaka, Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR), Rohadi Awaludin mengatakan, Batan sudah mengeluarkan lima produk untuk terapi dan diagnosis penyakit. Kelimanya itu kini sudah dihilirisasi ke swasta, yakni PT Kimia Farma.

"Radioisotop, isotop yang memancarkan radiasi, bisa untuk kesehatan, industri, pengelolaan sumber daya alam. Nah khusus untuk kesehatan ada namanya radiofarmaka, jadi farmaka, obat yang di dalamnya mengandung radioisotop," jelas Rohadi kepada VIVA ditemui di Gedung Puspiptek, Serpong, Tangerang Selatan, Selasa 21 November 2017.

Dia menjelaskan, kelima produk obat dari nuklir yaitu, Kit MIBI, fungsinya untuk mendiagnosis fungsi jantung dan mengevaluasi fungsi otot jantung. Jika teknik pencitraan medis biasa hanya dapat melihat perubahan anatomi atau massa jantung, maka hasil pencitraan menggunakan MIBI memberikan informasi yang lebih akurat mengenai fungsi jantung.

“Jadi yang dilihat adalah fungsinya. Walaupun bentuk jantung tidak berubah, dengan MIBI, kita bisa mengetahui bagian atau otot jantung mana yang tidak berfungsi, sehingga menjadi gambaran bagi dokter tindakan selanjutnya apa yang akan dilakukan dengan kondisi jantung tersebut,” jelasnya.

Kedua, Kit MDP, yang berfungsi mendiagnosis sejauh mana penyebaran kanker di dalam tulang, yang digunakan dalam penentuan stadium penyakit kanker. Dengan demikian menjadi gambaran bagi dokter untuk langkah pengobatan selanjutnya.

Menurut Rohadi, ketersediaan Kit MDP paling banyak dibutuhkan oleh rumah sakit dibandingkan 4 produk radiofarmaka lainnya.

Produk ketiga yaitu DTPA, yang dapat mendiagnosis fungsi ginjal untuk memberikan informasi yang lebih akurat tentang kondisi ginjal pasien, berguna dalam menentukan langkah penanganan selanjutnya.

Keempat, Radiofarmaka Senyawa Bertanda 153 Sm-EDTMP atau samarium, yang digunakan untuk terapi paliatif atau mengurangi rasa nyeri kepada penderita kanker, terutama sel kanker yang sudah menyebar ke organ tubuh lain (metastasis).

 “Penggunaannya dapat mengurangi rasa nyeri akibat kanker hingga satu bulan”, ucap Rohadi.

Sementara produk komersial seperti morfin harus digunakan setiap hari.

Kelima yaitu Radiofarmaka Senyawa Bertanda 131 I-MIBG, digunakan untuk mendiagnosis kanker neuroblastoma atau sistem saraf pada anak-anak.

Sayangnya, baru sekitar 12 rumah sakit dari seluruh rumah sakit di Indonesia yang memanfaatkan produk ini, antara lain RS Kanker Dharmais dan RS Hasan Sadikin Bandung.