Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 21 November 2017 | 17:35 WIB
  • Kanker Makin Meningkat, Nuklir jadi Solusi

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis,
    • Mitra Angelia
Kanker Makin Meningkat, Nuklir jadi Solusi
Photo :
  • www.pixabay.com/geralt
Ilustrasi atom

VIVA – Badan Tenaga Nuklir Nasional atau Batan terus mengembangkan penggunaan nuklir untuk terapan medis. Batan sudah menghasilkan lima produk obat nuklir untuk beberapa penyakit. Nuklir sudah difungsikan untuk terapi dan diagnosa penyakit jantung, kanker dan ginjal. Hilirisasi obat nuklir ini, salah satunya dengan perusahaan farmasi, PT Kimia Farma.

Setelah lima produk 'obat dari nuklir' untuk dihilirisasi, Batan sedang mengembangkan potensi nuklir untuk penyakit lainnya.

Direktur PT Kimia Farma, Honesti Basyir mengatakan penderita penyakit kanker terus meningkat di Indonesia. Kanker merupakan penyakit kedua terbesar setelah serangan jantung.

"Nuklir tidak hanya terapi, tapi juga diagnosis yang lebih tepat. Jadi penanganannya pun lebih cepat," ujar Honesti ditemui di Puspiptek, Serpong, Tangerang Selatan, Selasa 21 November 2017.

Honesti mengatakan, saat ini Batan dan PT Kimia Farma sedang mengembangkan 8 jenis obat dari nuklir, di antaranya GdTPA Folat, spesifik identifikasi kanker ovarium. Gd-DOTA n-dendrimer Trastuzubumap yang akan mengidentifikasi kanker payudara dan ovarium. Kapsul I-131, untuk terapi hipertiroid. Kit Ethambutol untuk mendeteksi dini infeksi tuberkulosis tulang dan lainnya.

Obat nuklir itu dikembangkan oleh Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR), Batan.

Prinsipnya, penggunaan nuklir untuk kesehatan melibatkan radioisotop. Ini merupakan isotop yang memancarkan radiasi, bisa untuk kesehatan industri, pengelolaan sumber daya alam dan lainnya. Nah khusus untuk kesehatan ada namanya radiofarmaka. Radiofarmaka itu produk obat yang di dalamnya ada isotop, yang kemudian digunakan untuk manusia.

Penggunaan untuk manusia, radiofarmaka disuntikkan pada bagian diagnosis, misalnya jantung atau ginjal. Kemudian dipindai, sehingga terdeteksi penyakit tersebut pada otot jantung yang mana.

Isotop yang disuntikkan bisa luruh dalam urine atau hilang dengan sendirinya, tanpa efek samping dan tentunya dengan dosis yang sudah ditentukan.