Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 21 November 2017 | 18:40 WIB
  • BPPT Siapkan Infrastruktur Teknologi Mobil Listrik

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis,
    • Lazuardhi Utama
BPPT Siapkan Infrastruktur Teknologi Mobil Listrik
Photo :
  • VIVA.co.id/Lazuardhi Utama Rifki
Deputi Bidang Teknologi Informasi, Energi dan Material BPPT, Hammam Riza

VIVA – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi mendukung program pembangunan mobil listrik nasional. BPPT berkontribusi pada pengembangan teknologi Stasiun Pengisian Listrik Umum beserta pengisian ulang secara cepat atau charging station and fast charging technology.

Menurut Deputi Bidang Teknologi Informasi, Energi dan Material BPPT, Hammam Riza, institusinya juga mengembangkan infrastruktur uji coba, yang dimulai dari sistem manajemen baterai sampai sistem baterai mobil listrik.

"Kami akan fokus di situ. Sementara untuk pengembangan baterai dan mobil listrik ada lembaga lain," kata dia di Jakarta, Selasa 21 November 2017.

BPPT tergabung dalam konsorsium pengembangan mobil listrik dengan LIPI, Badan Tenaga Nuklir Nasional, PT Pindad, dan universitas serta lembaga riset lainnya.
 
Ia menuturkan, teknologi Stasiun Pengisian Listrik Umum beserta pengisian ulang secara cepat ini sedang dalam riset dan pengkajian di technopark milik BPPT khusus energi terbarukan di Baron, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Hammam menuturkan, keberadaan charging station harus beserta dengan mobil listrik.

"Yang pasti wilayah Jabodetabek. Kita ingin di-charger satu jam tapi bisa mobil bisa melaju hingga enam jam. Itu tantangan," jelasnya.

Hammam mendorong agar mobil listrik menjadi program nasional, bukan abal-abal. Contohnya, sudah dilakukan riset dan dibuatkan kajian dalam bentuk laporan, tetapi tidak ada realisasinya.

Sementara untuk sumber kelistrikannya, Hammam mengatakan, berasal dari geothermal atau panas bumi.

"Kita berusaha memberikan desain yang memaksimalkan komponen dalam negeri. Jangan menghasilkan produk teknologi tapi komponen impor semua," paparnya.

Ia menginginkan TKDN pada sumber panas bumi ada maksimalnya, seperti di Kamojang kapasitas tiga MW yang TKDN-nya hampir mencapai 70 persen.

"Kalau melihat seluruh pembangkit listrik di Indonesia rata-rata TKDN-nya 30 persen, dan bahkan ada yang di bawah itu," tutur Hammam.