Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 28 November 2017 | 13:25 WIB
  • Fiber Optik Diklaim Solusi Percepat Penetrasi Internet

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis,
    • Siti Sarifah Alia
Fiber Optik Diklaim Solusi Percepat Penetrasi Internet
Photo :
  • www.pixabay.com/Fotocitizen
Ilustrasi broadband dan internet

VIVA – Revolusi digital di bidang teknologi informasi dianggap semakin mendesak. Prioritas pun mencakup fix access dan mobile broadband agar bisa menjangkau daerah, sekaligus memberikan akselerasi ekonomi digital. Pemerintah diminta membenahi infrastruktur internet di Indonesia.

Ketua Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (Apjatel), Lukman Adjam mengatakan, pemerintah memang sudah memiliki program pita lebar yang tertuang dalam Keppres No 96 Tahun 2014 tentang Rencana Pitalebar Indonesia 2014-2019, sebagai hasil kesepakatan pemangku kepentingan industri TIK kala itu. Di dalamnya telah dicanangkan target pengembangan infrastruktur industri TIK hingga 2019.

"Kita harus siap, jangan sampai terlambat mempersiapkan. Apalagi Indonesia akan memperoleh bonus demografi pada 2020-2030. Saya berharap Presiden Jokowi segera menerbitkan instruksi presiden untuk percepatan pembangunan jaringan fiber optik,” jelas Lukman dalam keterangannya, Selasa 28 November 2017. 

Dalam Keppres tersebut, infrastruktur berbasis mobile pada 2019 sudah harus menjangkau 100 persen daerah perkotaan dengan kapasitas 1 Mbps, sedangkan untuk fix broadband 71 persen menjangkau rumah tangga dengan kapasitas 20 Mbps. Sementara di daerah pedesaan, target 2019 dalam Keppres itu, mobile broadband dapat menjangkau 100 persen dengan kapasitas 512 Kbps dan 49 persen rumah tangga pedesaan dengan kapasitas 10 Mbps. 

Namun, menurut Lukman, pencapaian saat ini secara rata-rata nasional, untuk mobile broadband baru 93 persen. Semua kota besar sudah terjangkau jaringan mobile 3G, sedangkan level kabupaten sudah 98 persen terjangkau jaringan mobile 3G. Sedangkan jaringan mobile broadband 4G di kota baru 40 persen, bahkan di pedesaan hanya 14 persen. Untuk fix broadband secara nasional hanya 6 persen seluruhnya.

Lukman menjelaskan, Palapa Ring dirasa belum cukup untuk menjadi backbone. Menurutnya, harus ditambah fiber optik. Palapa Ring dianggap sebagai backbone yang diperlukan untuk menjangkau ke gedung-gedung. Sedangkan percepatannya membutuhkan dukungan fiber optik, perizinan dan koordinasi dengan daerah.

Saat di Indonesia masih lambat, beberapa negara telah menggunakan fiber optik karena secara teknologi, fiber optik dapat menyalurkan data hingga 10 Gbps tanpa interferensi radio seperti seluler. Selain itu, Infrastruktur dan layanan fiber optik dapat bertahan lebih dari 10 tahun secara konsisten tanpa gangguan berarti dari cuaca, gangguan listrik atau kondisi lingkungan lainnya seperti yang terjadi di teknologi seluler dan teknologi data lainnya. 

Awalnya, fiber optik digelar untuk segmen korporasi, kini merambah ke ritel, khususnya perumahan yang dikenal dengan Fiber to The Home (FTTH). FTTH mempunyai daya tarik tersendiri bagi masyarakat modern yang mempunyai kebutuhan akan akses internet, untuk mengakomodasi kehidupan digital pengguna. 

Salah satu operator telekomunikasi yang siap mengakselerasi pertumbuhan FTTH adalah GIG yang dirilis oleh Indosat Ooredoo.

Seperti diketahui, kecepatan rata-rata internet di Indonesia adalah 6,4 Mbps, masih jauh dari kecepatan pita lebar di Korea Selatan yang memimpin dengan 26,3 Mbps. Dengan fiber optik atau FTTH, dipercaya kecepatannya mencapai berkali-kali lipat.