Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 29 November 2017 | 13:42 WIB
  • Gas Beracun Gunung Meletus Dinginkan Suhu, Ini Sebabnya

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis
Gas Beracun Gunung Meletus Dinginkan Suhu, Ini Sebabnya
Photo :
  • ANTARA Foto/Fikri Yusuf
Erupsi Gunung Agung

VIVA – Satelit National Oceanic and Atmospheric Administration mengamati letusan Gunung Agung mengeluarkan gas belerang dioksida, atau sulfur dioksida/SO2.  

Satelit lain juga mengamati hal yang sama. Data Badan Antariksa Amerika Serikat dikutip Rabu 29 November 2017, menunjukkan, satelit Suomi National Polar-orbiting Partnership (Suaomi-NPP) mendeteksi adanya konsentrasi belerang dioksida yang dikeluarkan Gunung Agung pada 27 dan 28 November 2017. 

Gas SO2 itu muncul dan terbang ke atmosfer bersamaan asap vulkanik dari Gunung Agung. Belerang dioksida, merupakan salah satu gas vulkanik. Selain SO2, gas vulkanik yang keluar dari letusan gunung api di antaranya karbon monoksida, karbon dioksida hidrogen sulfida, dan nitrogen dioksida. 

Bicara belerang dioksida, gas ini berbahaya bagi kesehatan manusia dan bisa berdampak pada iklim. 

Dikutip dari laman Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), peneliti bidang atmosfer LAPAN, Novita Ambarsari pernah menuliskan, belerang dioksida akan meningkat tajam saat terjadi gunung meletus. 

Dari profilnya, Novita menuliskan, belerang dioksida merupakan gas tak berwarna dengan bau yang sangat khas. Gas ini bila mengenai tubuh bisa berbahaya, yakni bisa merusak jaringan kulit, mata, dan saluran pernapasan. 

Sementara itu, di sisi lain, belerang dioksida bisa menurunkan suhu sekitar. Dampak gas tersebut pada penurunan suhu terbukti pada letusan Gunung Merapi pada 2010. 

Novita menuliskan, data temperatur permukaan dari satelit AQUA menunjukkan temperatur udara Indonesia mencapai nilai terendah sepanjang November 2010 pada 5 November, dengan temperatur sekitar 26,4 derajat celsius. 

Dia menjelaskan, penurunan suhu terjadi karena gas belerang dioksida di atmosfer dapat bereaksi dengan molekul-molekul air. 

"Ini, kemudian membentuk campuran air dengan gas SO2 yang disebut sulfat aerosol," jelas Novita. 

Dia menuliskan, sulfat aerosol dapat menyebabkan penurunan suhu global, karena material ini bersifat menghalangi sinar matahari yang akan masuk ke Bumi. 

Dengan terhalangnya sinar matahari ke Bumi, maka akan menurunkan jumlah energi panas yang bisa menghangatkan Bumi.