Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 30 November 2017 | 10:58 WIB
  • Gunung Agung Bisa Dinginkan Bumi, Ini Syaratnya

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis
Gunung Agung Bisa Dinginkan Bumi, Ini Syaratnya
Photo :
  • REUTERS/Johannes P. Christo
Erupsi Gunung Agung

VIVA – Letusan Gunung Agung telah mengeluarkan gas beracun sulfur dioksida atau SO2. Gas kimia tersebut jika mengangkasa sampai ke stratosfer dalam jumlah yang masif, bisa menghalangi sinar mahatari ke Bumi dan bisa berdampak mendinginkan suhu global.

Ilmuwan lingkungan Universitas Rutgers, Amerika Serikat, Alan Robock menjelaskan, sulfur dioksida begitu terbang ke atmosfer akan bereaksi dengan air, dan menghasilkan tetesan yang bisa bertahan hingga setahunan atau lebih.

Tetesan ini akan berfungsi sebagai 'tameng' sinar matahari. Jadi saat sinar matahari kontak dengan tetesan ini, maka sinar surya itu akan kembali ke luar angkasa, tidak ke Bumi. Dengan demikian, SO2 yang telah berdinamika itu bisa mengurangi jumlah sinar matahari dalam jumlah besar. 

Dikutip dari Mashable, Kamis 30 November 2017, Robock mengatakan, setelah satu atau dua tahun di atmosfer, tetesan sir dari hasil sulfur dioksida itu akan tumbuh makin besar dan akhirnya jatuh ke Bumi. 

Namun, Robock menekankan, untuk bisa sampai menjadi tetesan yang menghalangi sinar matahari, SO2 harus sampai pada tingkat stratosfer, atau sekitar 15-50 kilometer dari permukaan. Jika tidak sampai ke area stratosfer, maka penurunan suhu global tidak akan terjadi. 

"Jadi ini harus menjadi ledakan (besar) atau adanya aliran gas (SO2) yang sangat kuat," jelas Robock.

Ledakan besar gunung berapi belum tentu mengirimkan SO2 ke stratosfer. Dalam catatan sejarah pernah terjadi sebuah letusan besar Gunung St. Helens pada 1980. Letusan ini merupakan salah satu letusan terdahsyat dalam sejarah Amerika Serikat

Gunung itu mengirimkan abu vulkanik ke 11 negara bagian di AS, meledakkan sebagian besar tubuh gunung, dan abu vulkanik mengangkasa sampai ke ketinggian 15 mil. Tapi letusan besar itu tak menyebabkan banyak SO2 masuk ke stratosfer. Dengan demikian, dampak letusan Gunung St. Helens itu tak mendinginkan suhu global secara temporer. 

"Kami tahu Gunung Agung telah mengirimkan banyak sulfur dioksida ke atmosfer pada 1963, jadi kami tahu Gunung Agung pernah mendapatkan proses kimia yang tepat. Tapi Gunung Agung harus meletus jauh lebih besar dari yang pernah terjadi selama ini," jelasnya. 

Selain itu, Robock mengatakan, karakteristik geografis posisi Gunung Agung, sejauh ini kurang berpeluang mendinginkan Bumi. Karakter Gunung Agung memang bisa memuntahkan gas yang akan tersebar ke seluruh dunia. 

"Bali terletak di daerah tropis, dan angin stratosfer tinggi akan secara bertahap akan meniupkan (SO2) ke seluruh dunia ke kedua belahan dunia (Selatan dan Utara)," ujarnya. 

Daerah tropis, punya catatan bagi Robock, sebagai area yang menjadi 'rumah' bagi sinar matahari melimpah sepanjang tahun. 

Namun peluang gunung di daerah tropis mendinginkan suhu Bumi bisa terjadi, dengan syarat mengirimkan sekitar 20 juta ton sulfur dioksida ke langit. Gunung yang pernah meledak dengan volume SO2 itu adalah Gunung Pinatubo di Filipina pada 1991.

Data dari Pusat Vulkanologi dan Bencana Geologi (PVMBG) menunjukkan, pada letusan freatik Gunung Agung 21 November 2017, terekam 600 ton SO2 dimuntahkan gunung tersebut. 

Gas beracun itu keluar 10 kali lipat pada letusan magmatik pada 25 November 2017. PVMBG mencatat, volume gas SO2 yang keluar dari letusan ini mencapai 6 tibu ton. Pantauan terakhir, gas SO2 yang dimuntahkan dari Gunung Agung mencapai 2.900 ton. 

Dengan demikian, Gunung Agung untuk bisa mendinginkan Bumi harus punya letusan dahsyat.