Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 21 Juni 2017 | 08:02 WIB
  • Konsep Smart City dan Fintech Harus Paralel dan Terintegrasi

  • Oleh
    • Lazuardhi Utama,
    • Afra Augesti
Konsep Smart City dan Fintech Harus Paralel dan Terintegrasi
Photo :
  • VIVA.co.id / Dwi Royanto (Semarang)
Smart City di Semarang, Jawa Tengah.

VIVA.co.id – Smart City atau Kota Cerdas semakin ramai diperbincangkan. Terlebih, konsep ini sudah mulai hadir di kota-kota besar seperti Bandung, Jakarta, Makassar dan Surabaya. 

Akan tetapi, dalam penerapannya, Smart City masih menemukan berbagai tantangan. Salah satunya menyangkut fintech atau financial technology yang mendukung cashless society (transaksi nontunai).

Kepala Fintech Office Bank Indonesia, Junanto Herdiawan mengatakan, ekosistem Smart City di Indonesia terdiri dari tiga elemen yaitu Smart Enviroment, Smart Society, dan Smart Economy.

Sedangkan, fintech sendiri merupakan pendukung elemen ketiga tersebut. Transaksi nontunai merupakan langkah untuk mendorong atau mempercepat pembangunan Smart City di Indonesia.

Tujuannya agar seluruh pembayaran menjadi lebih praktis dan efisien waktu. "Konsep Smart City sejalan dengan penerapan transaksi nontunai, karena beberapa keuntungan didapatkan seperti lebih aman, efisien, serta mengurangi potensi kebocoran anggaran," ujar Junanto kepada VIVA.co.id, Selasa malam, 20 Juni 2017.

Ia memperkirakan bahwa saat ini perkembangan transaksi nontunai begitu menggembirakan. Mulai dari penggunaan uang elektronik (e-money), bantuan sosial nontunai, maupun pemanfaatan fintech itu sendiri.

Junanto melanjutkan, pembangunan Smart City dan fintech harus paralel dan terintegrasi. Transformasi untuk menjadikan kota digital atau kota cerdas, membutuhkan pengalaman yang tidak sederhana dan tidak sekadar menasang aplikasi.

Manusia dan tata kelola nyatanya juga memegang peranan besar, baik sebagai pengguna, pengelola, hingga birokrat mempunyai kapasitas dan kebiasaan.

Semua itu terkadang dianggap sebagai sebuah keunikan yang tidak dapat digantikan oleh mesin atau komputer, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), yang digadang-gadang turut ambil bagian dalam pembangunan Smart City.

"Membangun ekosistem harus melibatkan segenap elemen di dalamnya, baik regulator, pemerintah daerah, akademisi, pelaku industri, masyarakat dan lain-lain. Tantangan infrastruktur, regulasi, dan kultur, adalah beberapa yang perlu diatasi bersama," papar Junanto.