Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 10 Juli 2017 | 12:40 WIB
  • Penculik Minta Tebusan Berupa Bitcoin, Terinspirasi Hacker

  • Oleh
    • Lazuardhi Utama,
    • Afra Augesti
Penculik Minta Tebusan Berupa Bitcoin, Terinspirasi Hacker
Photo :
  • REUTERS/Benoit Tessier
Uang bitcoin.

VIVA.co.id –Maraknya serangan virus ransomware WannaCry dan NotPetya yang dilakukan para peretas (hacker) belum lama ini, sepertinya menjadi inspirasi bagi para penculik.

Kali ini, dunia kriminal dihebohkan dengan aksi penculikan yang meminta tebusan berupa Bitcoin. Menurut laman Motherboard, Senin 10 Juli 2017, awal bulan ini The Indian Express melaporkan segerombol penculik diketahui meminta bayaran dengan menggunakan Bitcoin.

Motif baru tersebut menggambarkan bahwa teknologi dan kriminalitas sudah saling bersinergi. Meski terkadang tidak berhasil, tetapi kasus ini jauh merupakan satu-satunya kasus penculikan yang mencoba menggunakan cryptocurrency.

Enam orang menculik seorang pedagang bernama Ashu Jain pada 30 Mei 2017. Anggota penculik itu menuntut 20 bitcoin, atau sekitar US$52 ribu.

Deepak Sharma, yang merupakan seorang lulusan teknik informatika, diduga menjadi dalang di balik skema penculikan tersebut. Sementara itu, pada awal tahun ini dikabarkan ada penculik yang menargetkan seorang wanita Brazil.

Wanita itu menikah dengan seorang pengusaha kecil. Akan tetapi, menurut sebuah pernyataan yang diterjemahkan oleh Cryptocoins News, petugas yang bertanggung jawab atas penyelidikan tersebut menyangkal adanya laporan penculikan ini.

"Saya berbicara dengan beberapa rekan dari seluruh Brazil dan tidak pernah ada upaya penculikan dimana pembayaran dilakukan dalam mata uang virtual. Ini belum pernah terjadi sebelumnya di Brazil," ungkap petugas yang tak disebutkan namanya itu.

Praktik penculikan ini sudah pernah terjadi sepanjang 2015, di mana ketika para penculik asal Taiwan mengantongi cryptocurrency senilai US$1,5 juta.

Geng tersebut terus menyekap korbannya, Wong Yuk-kawn, bos perusahaan minyak yang terdaftar di Hong Kong. Yuk-kawn disekap selama 38 hari sebelum permintaan para penculik selesai ditebus.

Pada tahun yang sama, penculik di Kosta Rika menargetkan warga negara Kanada dan menuntut puluhan ribu dolar dalam bitcoin. Dalam ketiga kasus ini, pihak berwenang berhasil menangkap tersangka.

Contoh kasus di India, polisi mengumpulkan enam orang, sama halnya dengan di Brazil. Sedangkan di Taiwan, penyidik menangkap 16 orang.

Akan teapi, karena Bitcoin terus mendapat perhatian lebih, mungkin penjahat tradisional seperti para tersangka ini akan mencoba menggabungkan sistem barter mereka dengan cryptocurrency. (ren)