Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 12 Juli 2017 | 12:07 WIB
  • Negara Bagian AS Ini Darurat Ganja

  • Oleh
    • Lazuardhi Utama
Negara Bagian AS Ini Darurat Ganja
Photo :
  • VIVA.co.id/Anry Dhanniary
Daun ganja.

VIVA.co.id – Departemen Perpajakan Nevada, Amerika Serikat, menyatakan bahwa banyak apotek di salah satu negara bagian AS itu kehabisan persediaan ganja rekreasi. Hal ini mendorong Gubernur Nevada, Brian Sandoval, mengeluarkan maklumat keadaan darurat.

Peristiwa ini terjadi kurang dari dua minggu setelah ganja resmi dilegalkan, atau tepatnya pada 28 Juni 2017. Sedikit informasi, Nevada menjadi negara bagian terbaru yang ikut melegalisasi penggunaan ganja untuk kebutuhan rekreasi.

Nevada bergabung dengan sejumlah negara bagian lain, seperti Colorado, Oregon, Washington, dan Alaska, yang telah lebih dulu menetapkan kebijakan serupa. 

Penjualan ganja secara legal dipastikan akan menjadi menjadi anugerah bagi ekonomi kota terbesar di Nevada, Las Vegas. Hal itu akan memperkuat reputasi Las Vegas sebagai kota pesta "anything goes" untuk jutaan pengunjung dari seluruh dunia.

"Berdasarkan laporan bahwa penjualan ganja dewasa sudah melampaui ekspektasi industri di 47 apotek resmi, sehingga mayoritas kehabisan persediaan,” kata Juru Bicara Departemen Perpajakan Nevada, Stephanie Klapstein, seperti dikutip Sputniknews, Rabu, 12 Juli 2017.

Oleh karena itu, menurut Klapstein, pemerintah negara bagian harus mempertimbangkan untuk mengeluarkan maklumat keadaan darurat, di mana isinya memerintahkan pedagang grosir minuman keras dan peritel lainnya untuk mendistribusikan ganja.

Industri minuman keras Nevada juga telah menuntut pemerintah untuk memperbolehkan mendistribusikan ganja. Namun Klapstein mengatakan bahwa kebanyakan pedagang minuman keras yang telah mengajukan izin distribusi ganja tidak memenuhi persyaratan.

Namun, Klapstein mengaku jika pihaknya terus bekerja sama dengan para pedagang besar minuman keras yang telah mengajukan lisensi untuk mendistribusikan ganja rekreasi, namun sebagian besar belum memenuhi persyaratan yang memungkinkan.

Nevada Dispensary Association menyebutkan bahwa penjualan ganja mencapai sekitar US$3 juta (Rp39,4 miliar) pada akhir minggu pertama setelah dilegalkan. (one)