Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 13 Juli 2017 | 14:09 WIB
  • Hak Cipta Swafoto Monyet Sulawesi Kembali Memanas

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis
Hak Cipta Swafoto Monyet Sulawesi Kembali Memanas
Photo :
  • REUTERS / Sukree Sukplang
ilustrasi/Kawanan monyet liar

VIVA.co.id – Kisruh soal hak cipta swafoto, atau selfie monyet Sulawesi kembali menghangat. Sebab, kasus ini saat ini memasuki tingkat pengadilan banding di Amerika Serikat. 

Dikutip dari Cnet, Kamis 13 Juli 2017, pengadilan banding di Negara Bagian San Francisco pada Rabu 12 Juli 2017, menanyakan kepada para pengacara para pihak atas kasus hak cipta swafoto monyet Sulawesi yang ramai pada 2015. 

Kasus ini bermula pada 2011, saat seekor monyet hitam Sulawesi mengambil swafoto menggunakan kamera milik fotografer David Slater yang sedang berkunjung ke Indonesia. Swafoto monyet bernama Naruto itu, kemudian beredar di dunia maya dan salinannya diterbitkan perusahaan Blurb dan perusahaan milik Slater, Wildlife Personalities.

Swafoto ini, kemudian menarik perhatian organisasi perlindungan hewan, People for the Ethical Treatment of Animal (PETA). Organisasi ini mengajukan gugatan hak cipta ke pengadilan di AS. Menurut PETA, seharusnya pemegang hak cipta swafoto itu adalah monyet Naruto. 

Pada 7 Januari 2016, pengadilan federal AS di San Francisco, memutuskan monyet hitam Sulawesi itu tak bisa memiliki hak cipta swafoto. Alasan hakim saat itu, monyet itu bukanlah manusia. 

Tapi kemudian, kasus ini bergulir ke tingkat pengadilan banding. Atas berlanjutnya kasus ini, pengacara Blurb, Angle Dunning tidak khawatir kasus ini naik ke tahap banding. Mereka merasa optimistis pengadilan tingkat banding bisa menguatkan putusan pengadilan federal sebelumnya. 

Dunning yakin, pengadilan banding akan mengonfirmasi putusan pengadilan distrik, atau bahkan mengosongkan putusannya, serta menghentikan kasus dengan alasan PETA tidak bisa mewakili monyet tersebut.

"Kami ingin kasus ini berakhir pada titik ini," kata Dunning dikutip dari Cnet.

Sementara itu, pengacara Slater, Andrew Dhuey menegaskan, kasus penuntutan hak cipta swafoto monyet Sulawesi itu cukup menggelikan. 

"Seekor monyet baru saja masuk ke sebuah pengadilan federal dan menuntut pelanggaran hak cipta. Ini seperti saya berada sebuah guyonan, tapi ini benar-benar terjadi," ujarnya dikutip dari Abc7news. 

Kini tiga juri dalam pengadilan banding di San Francisco, menanyakan kepada pengacara PETA, kenapa mereka bersikukuh mewakili dan memperjuangkan hak cipta milik monyet tersebut.

Sedangkan perwakilan PETA tetap menuntut hak cipta swafoto bagi monyet tersebut. 

"Kami paham monyet itu sangat canggih, mereka sangat cerdas, visinya dominan. Dia (monyet Naruto) sangat mirip dengan kita," kata Penasehat Umum PETA, Jeff Kerr.