Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 14 Juli 2017 | 19:37 WIB
  • Blokir Telegram, Telkomsel Tunggu Arahan Kominfo

  • Oleh
    • Siti Sarifah Alia,
    • Afra Augesti
Blokir Telegram, Telkomsel Tunggu Arahan Kominfo
Photo :
  • VIVA.co.id/Amal Nur Ngazis
Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah

VIVA.co.id – Kementerian Komunikasi dan Informatika resmi memblokir aplikasi chatting Telegram. Pelaksana Tugas Kepala Informasi dan Humas Kemenkominfo, Noor Iza menyampaikan, pemblokiran sudah mulai dilakukan pada hari ini, Jumat 14 Juli 2017 pukul 11:00 WIB.

"Ya, benar. Sudah dilaksanakan (pemblokiran) hari ini (Jumat, 14 Juli 2017) jam 11 siang. Nanti akan ada arahan dari Pak Menteri (Menkominfo Rudiantara) dan Pak Dirjen (Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kemenkominfo Semuel Abrijani Pangerapan)," ujar Noor Iza saat dikonfirmasi VIVA.co.id melalui telepon, Jumat 14 Juli 2017.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Telkomsel Indonesia, Ririek Adriansyah, mengatakan, saat ini perseroan masih menunggu instruksi dari Kemenkominfo. Ia menambahkan, Menteri Rudiantara direncanakan memberikan arahan kepada seluruh operator di Indonesia untuk memblokir Telegram.

"Ya, kami akan mengikuti apa pun yang memang nanti diinstruksikan Kominfo. Tapi, saya belum cek kembali, apakah instruksi resmi sudah ada atau belum. Begitu ada, kami akan langsung eksekusi, karena ini sesuatu yang harus dilakukan. Soalnya dampak negatif ke kita kan juga cukup besar," ujar Ririek di bilangan SCBD, Jakarta Selatan, Jumat 14 Juli 2017.

Meski dinyatakan olehnya akan ada pengurangan terhadap trafik data penggunaan internet Telkomsel akibat pemblokiran tersebut, Ririek menekankan bahwa tujuan utama Telkomsel tak hanya itu. Dalam pengoperasiannya, Telkomsel juga ingin mengampanyekan program pemerintah melalui Internet Sehat dan Aman (Insan).

"Kalau secara teoritis, pasti berkurang. Tujuan kami bukan cuma itu. Tanpa itu pun, kami tetap mempromosikan internet baik,” kata dia.

“Ini sebenarnya bentuk lain untuk mengontrol penggunaan atau akses terhadap konten-konten yang berbau negatif. Nanti, mekanismenya ada dua. Satu, pemerintah bisa blokir dari sistem mereka (Telegram). Kedua, operatornya sendiri yang blokir, juga bisa," tuturnya.

Ririek mengatakan, hingga saat ini pengguna Telegram yang memakai Telkomsel tidak banyak jumlahnya. "Untuk data, saya enggak hafal jumlahnya. Rasanya enggak (lima besar). Belum banyak," ungkap Ririek.

Meski disebut baru mengumumkan masalah pemblokiran ini Senin mendatang, aplikasi web Telegram sekarang sudah tidak bisa diakses melalui koneksi internet sejumlah operator, salah satunya Telkomsel. Indikatornya adalah saat pengguna mencoba mengakses alamat web.telegram.org, maka akan langsung dibawa ke halaman berisi keterangan pemblokiran.

Meski demikian, akses Telegram melalui aplikasi di perangkat mobile masih bisa dilakukan. Menanggapi hal itu, Noor Iza menyebut fokus utama Kominfo ada pada channel Telegram.

"Mungkin aplikasi masih bisa, tapi yang jadi fokus ada yang namanya channel. Channel ini kebetulan memang pakai website," kata Noor Iza.