Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Minggu, 16 Juli 2017 | 11:19 WIB
  • Kapolri: Telegram Saluran Komunikasi Favorit Teroris

  • Oleh
    • Dedy Priatmojo,
    • Irwandi Arsyad
Kapolri: Telegram Saluran Komunikasi Favorit Teroris
Photo :
Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

VIVA.co.id – Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian menegaskan alasan pemblokiran aplikasi chatting Telegram salah satunya karena masifnya komunikasi antar kelompok teroris menggunakan aplikasi Telegram. Fitur di Telegram juga diakui Kapolri, memiliki banyak keunggulan.

"Diantaranya mampu membuat sampai 10 ribu member dan dienkripsi. Artinya sulit dideteksi," kata Tito di Lapangan Silang Monas, Jakarta Pusat, Minggu 16 Juli 2017.

Menurut Tito, lalu lintas komunikasi kelompok teroris di Telegram itu jelas menjadi masalah serius. Sebab, dengan demikian Telegram menjadi tempat saluran komunikasi paling favorit bagi kelompok teroris.

Sejumlah aksi serangan teroris yang terjadi beberapa kali belakangan ini, kata Tito, juga para pelakunya menggunakan komunikasi melalui telegram dengan pihak-pihak yang terafiliasi kelompok radikal.

"Kasus-kasus yang terjadi selama ini, mulai dari bom Thamrin sampai bom Kampung Melayu, terakhir di Falatehan, di Bandung, ternyata komunikasi yang mereka gunakan semuanya menggunakan Telegram," ujar mantan Kepala BNPT ini.

Atas dasar kekhawatiran itu, Polri lanjut Tito, secara intens berkoordinasi dengan Kementerian  Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) untuk mengatasi persoalan ini. "Sekarang salah satunya adalah ditutup. Nanti kita liat apakah jaringan teror gunakan saluran komunikasi lain. Kita juga ingin liat dampaknya. Saya kira ini akan terus dievaluasi," katanya.

Sebagaimana diketahui, Kementerian Komunikasi dan Informatika resmi memblokir aplikasi chatting Telegram. Pemblokiran sudah mulai dilakukan pada hari ini, Jumat 14 Juli 2017 pukul 11:00 WIB.

Menkominfo Rudiantara mengungkapkan alasan pihaknya secara sepihak langsung memblokir Telegram versi website. Menurut Rudi, tindakan ini lantaran banyaknya konten-konten yang mengarah kepada radikalisme hingga terorisme.

"Telegram itu saya blok, karena paling banyak digunakan oleh teroris. Ini baru webnya, sekarang akan saya kejar IP (internet protokol)-nya," kata Rudi saat acara Silaturahmi Dewan Pers di Hotel Aryaduta, Jakarta, Jumat, 14 Juli 2017.