Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 17 Juli 2017 | 14:36 WIB
  • CEO Telegram Pavel Durov Kritik Kualitas WhatsApp

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis
CEO Telegram Pavel Durov Kritik Kualitas WhatsApp
Photo :
  • Instagram/@durov
Pendiri Telegram Pavel Durov

VIVA.co.id – Pendiri aplikasi Telegram, Pavel Durov menjadi sosok yang menyita perhatian warganet Indonesia dalam dua hari terakhir. Durov sigap merespons pemblokiran Telegram oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. 

Awalnya pendiri Telegram itu mengaku aneh dengan keputusan pemerintah Indonesia memblokir layanan mereka. Namun belakangan, Durov mengakui Telegram lalai merespons keluhan yang dikirimkan pemerintah Indonesia sehingga terpaksa memblokir. 

Pendiri layanan chatting asal Rusia itu selama ini tidak mengetahui pemerintah Indonesia sudah mengontaknya sejak 2016. Durov akhirnya menyampaikan permintaan maaf dan berkomitmen untuk menaati arahan dan kebijakan konten pemerintah Indonesia. 

Dalam persaingan dunia aplikasi messaging, Durov memang yakin dengan apa yang dimiliki Telegram. Dalam suatu kesempatan pada 2015, Durov pernah mengkritik kualitas WhatsApp. Pengguna WhatsApp menurutnya mati kutu saat ponsel pengguna WhatsApp baterainya nyaris habis dan kemudian mati. Menurutnya, dalam kondisi itu, pengguna WhatsApp tidak akan bisa mengakses pesan mereka. 

Kala itu, dia mengkritik WhatApp punya keterbatasan, tidak bisa sinkron lintas perangkat dan tidak mengirimkan dokumen atau file dalam ukuran besar. 

"Ada banyak keterbatasan dalam grup percakapan (WhatsApp). Itu juga tidak privat. Saya tak yakin menjadi fans berat WhatsApp sekitar tiga tahun lalu dan saya sekarang memang tak yakin," ujarnya dalam sebuah talkshow TechCrunch Disrupt pada September 2015.

Sekilas Telegram

Jejak Telegram pertama kali muncul didirikan oleh dua bersaudara. Pavel Durov dan Nicolay. Awalnya mereka membentuk VKontakte, situs jejaring sosial Rusia yang ingin menyaingi Facebook. Telegram sendiri muncul pertama kali pada 2013.

Namun pendiri VKontakte mengalami masalah pada 2014, saat pemerintah Rusia meminta situs jejaring sosial itu untuk memblokir akun pemimpin oposisi Rusia terkait isu Ukrania. Merasa tak setuju dengan tekanan pemerintah, akhirnya kedua bersaudara itu kemudian melepaskan kendali VKontakte. 

Selanjutnya keduanya pindah ke Berlin, Jerman untuk menjalankan Telegram. Guna mendirikan aplikasi ini, mereka mengaku mendanainya sendiri. 

Dalam situsnya Telegram menegaskan tidak ada tujuan untuk mendapatkan keuntungan dan jika aplikasi ini kehabisan dana untuk pengembangan layanan, maka Telegram akan meminta donasi dan biaya sukarela. 

Salah satu daya tarik yang ditawarkan Telegram yaitu memungkinkan pengguna untuk mengirim pesan enkripsi yang kuat. Telegram juga memiliki fitur messaging grup yang memungkinkan penggunanya untuk berbagi banyak video, pesan suara ataupun banyak tautan dalam satu pesan. Komunikasi itu pun dijamin tanpa bisa dideteksi oleh pengguna luar grup, sebab aplikasi ini mengklaim tak berjalan melalui komputasi awan.