Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 17 Juli 2017 | 20:37 WIB
  • Berantas Konten Radikal, BNPT: Kami Belum Bisa jadi Superman

  • Oleh
    • Lazuardhi Utama,
    • Afra Augesti
Berantas Konten Radikal, BNPT: Kami Belum Bisa jadi Superman
Photo :
  • REUTERS/Kacper Pempel
situs radikal/Ilustrasi.

VIVA.co.id – Deputi II Bidang Penindakan dan Pembinaan Kemampuan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Arif Dharmawan mengatakan, pihaknya akan terus berkoordinasi dengan 37 Kementerian/Lembaga untuk memantau segala bentuk modus operandi yang digunakan teroris, termasuk melalui game online.

"Apapun jenis modus operandinya, kami mencoba berkoordinasi dengan seluruh stakeholders. Kita lakukan pemantauan. Hasilnya, kami serahkan sepenuhnya kepada kementerian/lembaga yang lebih kompeten untuk mengambil tindakan lebih lanjut," kata Arif dalam sesi konferensi pers di Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta, Senin malam, 17 Juli 2017.

Ia menegaskan bahwa dalam memberantas penyebaran konten-konten radikal melalui aplikasi chatting, BNPT tidak bisa mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Arif pun menggambarkan, BNPT belum bisa sepenuhnya menjadi sosok superhero bagi rakyat Indonesia.

"Jadi, sekali lagi, BNPT bukan seperti badan yang mengerjakan kasus seperti ini sendiri. Kami belum bisa jadi Superman," tegasnya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, BNPT mengakui modus operandi atau pola dan medium komunikasi yang digunakan kelompok radikal kian canggih. Bahkan, ada satu layanan online yang dipakai teroris berkoordinasi sulit ditembus.

Layanan online yang dipakai teroris dan sulit ditembus itu adalah game online. Mereka menggunakan forum chatting atau mengobrol di game online itu untuk berkoordinasi dan merencanakan kegiatan teror.

"Mereka seolah chatting (mengobrol) permainan perang, tapi sebenarnya dipakai untuk berkoordinasi," kata Deputi I BNPT, Mayor Jenderal TNI Abdul Rahman Kadir, beberapa waktu lalu.

Selama ini, kata Abdul Rahman, kelompok radikal berkomunikasi melalui media sosial. Tapi pola itu diubah setelah media sosial mudah dideteksi aparat.

Forum komunikasi di game online jadi pilihan teroris. "Kita sulit mendeteksinya, karena mereka seolah-olah bermain game," katanya. Ia lalu menyebut bom Paris pada 2015 adalah contoh yang dilakukan kelompok ISIS yang direncanakan melalui komunikasi game online.