Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 3 Agustus 2017 | 04:52 WIB
  • Perusahaan Teknologi Jepang Enggan Berpaling dari Indonesia

  • Oleh
    • Lazuardhi Utama
Perusahaan Teknologi Jepang Enggan Berpaling dari Indonesia
Photo :
  • Reuters
Toshiba.

VIVA.co.id – Indonesia merupakan produsen batu bara terbesar keempat dunia. Salah satu sumberdaya alam yang tidak bisa diperbaharui ini masih menjadi sumber utama penyediaan listrik di sebagian besar wilayah di Indonesia.

Karena permintaan listrik di Indonesia terus meningkat, maka pemerintah bermaksud untuk mendiversifikasi bauran energi, terutama peningkatan produksi listrik yang dihasilkan oleh energi terbarukan, serta mengadopsi penggunaan teknologi batu bara yang bersih.

Hal ini bukan tanpa alasan, sebab pemerintah berniat untuk mengurangi emisi CO2 sebesar 29 persen pada 2019 dengan mewajibkan produsen listrik tenaga batu bara menggunakan batu bara yang bersih dan teknologi rendah emisi.

Di mata Managing Director Toshiba Asia Pacific, Tatsuo Doko, Indonesia tetap menjadi pasar yang penting bagi Toshiba. Pada sektor energi misalnya, Toshiba pemasok turbin panas bumi dan memiliki teknologi batu bara bersih yang memungkinkan pembangkit listrik tenaga uap dengan efisiensi tinggi.

“Baru-baru ini, kami menggarap proyek turbin uap dan generator 2 x 1.000 Megawatt (MW) dan peralatan terkait serta gardu induk GIS 500 kiloVolt (KV) pada perluasan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Unit 5 & 6 Tanjung Jati, Jepara, Jawa Tengah,” kata Tatsuo di Jakarta, Rabu, 2 Agustus 2017.

Ia melanjutkan, proyek lainnya adalah turbin air dan generator 2 x 45 MW pada Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Malea di Tana Toraja, Sulawesi Selatan.

“Proyek kami untuk Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sarulla Unit 1 sudah beroperasi bulan Maret 2017. Dari total kapasitas 330 MW, kami Toshiba memasok 60 MW x 3 turbin uap dan panas bumi serta generator,” ungkapnya.

Perusahaan teknologi yang kepanjangannya adalah Tokyo Shibaura Electric Cp. Ltd, ini juga tidak hanya memiliki proyek di Indonesia. Tercatat, tujuh negara ASEAN (Myanmar, Singapura, Malaysia, Laos, Thailand, Vietnam dan Kamboja) dan India bekerjasama dengan Toshiba.

“Bahkan, Malaysia, Laos, Thailand dan Vietnam, kami mengelola lebih dari satu proyek yang berkaitan dengan pengelolaan air dan pembangunan infrastruktur,” papar Tatsuo.